Jumat, 20 Juli 2012

Astagaa.. Aku Tenggelam!

Barusan aku mengintip kamarmu. Kau sedang tertidur, pulas sekali. Pelan-pelan kubuka pintu lebih lebar sedikit. Lalu kutelisipkan tubuhku dengan sangat hati-hati agar tak tercipta suara-suara yang membuatmu terbangun. Aku berjingkat mendekat, lantas duduk di pinggiran ranjang tidurmu. Aku kangen kau malam ini.

Aku menatapmu lamat-lamat. Roman mukamu apalagi. Kutelusuri dengan detail. Aku melihat banyak jawaban di sana. Tapi, jawaban yang sulit kumengerti. Jawaban yang entahlah. Harusnya kau katakan itu dengan gamblang.

Baiklah, kurasa lebih baik aku beranjak dari tempat ini. Sebelum aku semakin terlilit jawaban-jawaban yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, mungkin justru semakin banyak dan membuatku semakin pusing. Aku hendak berdiri, tiba-tiba, dengan sigap sepuluh jemarimu menahan lenganku. Aku kaget! Kutatap lagi romanmu yang masih terpejam, berharap menemukan jawaban, mengapa kau menarik lenganku. Seakan kau tak ingin aku membiarkanmu sendirian di kamar pengap ini.

Beberapa detik, aku masih tak mengerti apa maumu. Kau tetap dalam lelapmu. Hendak kulepas cengkeraman jarimu, namun terlalu kuat kau menggenggam lenganku. Lagian, sentuhanmu kurasa nyaman. Iya, sepertinya diamku lebih baik kali ini.

Aku mulai tersenyum sendiri melihatmu. Lebih tepatnya karena memang aku mengagumimu. Terus saja kau tahan aku di sini. Sampai kau bangun esok pagi, biar senyumku yang pertama kali menyambutmu. Kubayangkan gelagatmu ketika menyadari siapa yang menemanimu semalaman. Kau pasti lucu sekali, lantas melempariku dengan bantal lalu kubalas kau dengan lemparan guling. Jadilah perang ranjang sambil cengengesan usil.

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Eh, ada apa ini? Sungguh aku tenggelam tiba-tiba! Tubuhku terhentak keras ke depan. Seperti ada yang menarikku. Sepersekian detik aku tak sadar. Ketika kubuka mataku, aku sudah terbenam. Tempat apa ini? Sempit, gelap, sulit untuk bernapas di dalamnya. Sedikit kubenahi posisi kepalaku hingga aku bisa menjangkau suasana luar. 

Astagaaaa... ternyata. Aku hanya tersenyum melihat kenyataan ini. Kutenggelamkan lagi kepalaku. Namun, kali ini aku memposisikannya lebih nyaman. Tidak lagi pengap dan gelap. Yang ada malah sempit yang nyaman. Selamanya di sini pun aku betah. Iya, tenggelam di sini selamanya.

Ketika malam semakin matang, lenganmu semakin erat menenggelamkanku. Dasar kau! Sering-sering lah kau melindur seperti ini. Dan aku akan rutin datang ke sini setiap malam. :)

Minggu, 08 Juli 2012

Ada Cerita, Tentang Masa yang Indah..



Ada cerita tentang masa yang indah.. Ketika kau mengajariku tentang cinta. Sesuatu yang asing bagiku saat itu. Kau yang mengenalkan pertama kali. Sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Kau memberinya dengan tulus.

Ada cerita tentang masa yang indah.. Hampir enam tahun lalu, kau membuatku nyaman di sampingmu. Menyulap hari-hariku menjadi lebih menyenangkan. Menumbuhkan semangat baru untukku. Kau melakukannya dengan sepenuh hati.

Ada cerita tentang masa yang indah.. Saat kita tertawa bersama. Bermain bersama, lebih tepatnya menertawakan apapun yang kita lihat. Mencoba hal baru.

Ada cerita tentang masa yang indah.. Ke kantin, berdiri menatap ke depan di balkon sekolah, semua kita lakukan berdua. Main surat-suratan di kelas. Malu-malu kucing ketika tak sengaja bertemu.

Ada cerita tentang masa yang indah.. Ketika aku mendengar kau bermain gitar. Di kemah sekolah, kau bernyanyi. Narsis-narsisan. Saling mencuri padang, lantas tersenyum saat Tuhan menakdirkan mata kita bertemu.

Kau tahu? Aku senang mengenang masa-masa itu. Aku tertawa sendiri mengingatnya. Wajahmu yang polos, apa adanya. Senyummu yang manis, suaramu... Ah, entahlah! Semua bagaikan layar lebar, film yang diputar berulang-ulang di depanku.

Tapi, tak jarang mataku berair. Seperti saat ini, bertemankan "semua tentang kita" yang mengalun indah di telinga. Sempurna membawaku menemuimu di masa lalu. Ingin merasakannya lagi. Tentu, masih bersamamu. Kau sadar? Selama ini aku masih menyimpan semuanya. Semua tentang kita. Membekas dalam, enggan hilang. Sungguh, kamu masih spesial.

Kau mengerti? Tentang kenangan-kenangan itu. Tentang masa-masa indah itu. Saat pertama kali kau sentuh tanganku. Saat kau malu-malu menyatakan perasaanmu. Saat kamu menatapku, mengajakku bercerita. Semua belum hilang.

Enam tahun lalu, sampai sekarang, dan entah sampai kapan (mungkin selamanya), semua masih menyisa. Sesak, namun nyaman dan menyenangkan untuk diingat. Jaga baik-baik dirimu. Siapa tahu, kita bertemu lagi. Mengulang enam tahun lalu. Dengan perasaan sama, tatapan sama, ketulusan sama, dan senyum yang sama. Aku masih mencintaimu. :) Sungguh!! #KK

Minggu, 24 Juni 2012

Tetua Penjaja Dzikir

berapa lama kau berkeliling?
jajakan jerihmu semalam suntuk
memasukkan butir demi butir bulatan imitasi
dalam senar lembut meski kau paksa

mata kuyumu menggerabak
pedas dan memerah
untuk sebuah untaian penghitung dzikir

baju kokomu bak gombal
peci putihmu sedikit mengabu
tasbih seribuan apa daya
musnah kau telan

bukan, bukan itu niatmu
kau begitu mencintai-Nya
lewat langkahmu tertatih lelah
bertuntun menderai mendekati maraja

jika senar itu putus?
masaimu menggarang
menjumput lagi dzikir berserakan
jari yang bergetar namun tegas

stasiun tua adalah saksi mati
memuseumkan memoar tilasanmu
hingga kau benar-benar membawa dzikirmu
tasbih-tasbihmu kepada-Nya

sepi, tak lagi menggelantung di langit-langit
per jengkal stasiun kini perindu
seret jepitmu, sobek celanamu
entahlah,
mungkin kau dalam kenisbian
mengarungi sayhadat, menggenggam solawat erat-erat

Minggu, 10 Juni 2012

Kotak Bermusik

roman muka yang teduh
guratan sabit barang merekah
ikhlas, berkelakar meski terbeban
semasa jalan suratanmu
peluk aku, Ibu! sekarang!

gestur wajah yang tegas
bentakan kaku mengundang patut
dalam derai keringat menganak
selama napas hembusan berada
rangkul aku, Bapak! Jangan tunda lagi!

sungguh, enggan meremahkan asa
sungguh, kepingan itu akan kusambung lagi
bunuh hitam lewat cangap
tak masalah ditertawakan

harus kudapat!
yakinlah, gadismu akan pulang
mempersembahkan kotak bermusik
mengimpaskan guguran lelah
merapatkan rapuhan niskala


(ketika kalian mengecewakan mereka, dengan berbuat sesuatu yang salah, lihat betapa wajah mereka begitu sayup, dan hati mereka begitu layu. lantas, ketika kalian membanggakan mereka, tak senangkah kalian melihat mereka tertawa lepas, terus melontarkan pujian-pujian yang berlebihan untuk kalian? ketahuilah, melihat anak-anaknya bahagia adalah hal paling penting dalam hidup ayah dan ibu kalian. hal itu yang akan memberi mereka kekuatan, semangat untuk tetap ada di antara kalian. tatap muka mereka lamat-lamat ketika mereka tidur, kemudian ingat seberapa sering kalian menyakiti mereka! bayar hutang kalian kepada mereka! cukup dengan membuat mereka menangis, mengharu biru.)

Jumat, 08 Juni 2012

Kota Hitam

terus kayuh!
semakin berat karena butut
berkarat dan semakin rapuh
subuh menusuk, berkabut gelap

terus meracau!
terik mengintip lewat ujung sayu matamu
aspal semakin mengapur
sebab lelah melihat trotoar puas menyeringai
ternyata, siang masih pekat

terus kau kayuh!
balik kelambu yang kau rindu
langit kuning telur setengah matang
muram mega sedikit berdusta
bahkan, senja ini makin berjelaga

hingga secangkir teh milik tetangga
hangat wangi melati mengundang hasrat
gegara kilat tak memberimu atas itu
malam ini mendung
tiba-tiba hujan berguntur
bak kabut nalurimu

sayang, nasibmu
memaksa turuti waktu bernapsu
bernyawa tetanggung
teracuni di kota hitam

Kamis, 07 Juni 2012

Lahambay, Lembah Takzim




Judul                : Bidadari-bidadari Surga
Pengarang        : Tere-Liye
Penerbit            : Republika
Tahun terbit      : 2008 (cetakan I), 2010 (cetakan VI)
Tebal buku       : vi + 368 halaman
Ukuran buku    : 20,5 x 13,5 cm

Ide cerita yang diangkat sangat sederhana. Tentang pengorbanan seorang kakak (Laisa) demi kesuksesan keempat adik tirinya (Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta). Juga cinta, semangat, kerja keras, dan doa kepada Tuhan mampu memberi power yang besar dalam hidup Manusia.
Tere-Liye mengemasnya dengan begitu cantik, menyentuh, dan sangat manusiawi. Deskripsinya tentang keindahan alam Lembah Lahambay yang dikelilingi batu cadas setinggi lima meter, Gunung Kendeng, sungai, hutan rimba, dan kebun strawberry nyaris sempurna. Pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri panorama-panorama tersebut di depan matanya, persis menonton sebuah film dengan alur maju-mundur yang begitu rapat.
Novel ini banyak mengandung petuah-petuah dengan makna yang dalam. Salah satunya tentang takdir Tuhan bahwa HIDUP, JODOH, REZEKI, dan MATI adalah sepenuhnya milik Allah. Segala keputusan akhir mutlak di tangan Allah. Berbagai pemahaman hidup baru akan dapat dipetik dari novel ini. Pentingnya doa, cinta, semangat, pantang menyerah, dan kerja keras.
Kak Laisa, seorang teladan dalam keluarga yang sudah terbiasa bekerja keras setelah babak (ayah)-nya meninggal karena diterkam harimau Gunung Kendeng.  Dengan keterbatasan fisiknya, tubuh pendek, hitam, rambut gimbal, dan gemuk serta dempal, ia mampu menghidupi segenap keluarganya.
Ya, dia mungkin tidak memiliki kecantikan fisik yang didambakan oleh setiap lelaki, tetapi ia memiliki kecantikan hati yang luar biasa yang seharusnya lebih dibutuhkan oleh setiap lelaki di bumi ini. Bagaimana tidak, Kak Lais dengan ikhlas meminta kepada mamak (ibu)-nya untuk berhenti sekolah saat kelas 4 SD, demi keempat adik tirinya tetap bersekolah.
Berkat perjuangan Kak Lais yang luar biasa, Dalimunte (adik pertama Laisa), seorang anak lembah terpencil di pinggir hutan berhasil menjadi profesor di bidang fisika level dunia, dengan penelitian terbarunya tentang “Badai Elektromagnetik Antar Galaksi” yang akan menghantam planet ini sebelum kiamat. Ikanuri dan Wibisana, dua lelaki kembar tapi beda yang juga merupakan adik dari Dali, berhasil mendirikan bengkel mobil modifikasi dan akan membangun pabrik spare-part mobil sport, dan Yashinta si bungsu yang mendapat beasiswa S2 ke Belanda dan menjadi peneliti untuk konservasi ekologi, meneliti tentang burung Peregrin atau Alap-alap Kawah dan sejenisnya, serta menjadi kontributor foto untuk majalah National Geographic.
Kak Lais, yang hingga usianya 40 tahun lebih sudah beberapa kali gagal menikah, selalu ikhlas dan berhati lapang untuk dilangkahi adiknya yang lebih dulu mendapatkan jodoh. Prinsip Kak Lais “bahwa Allah telah mengirimkan keluarga terbaik dalam hidupku, dan itu sudah cukup. Aku menerima takdir Tuhanku dengan lapang dada,” membuat air mata tak tertahankan untuk menyeruak keluar.
            Hingga hari kematian Kak Lais tiba. Kanker paru-paru stadium IV yang telah disembunyikan dari adik-adiknya selama sepuluh tahun tak dapat ditahannya lagi. Penyakit yang dipendamnya selama ini lah yang memutuskan dan menjadi puncak perjuangannya dalam hidupnya. Sekaligus menjadi jembatannya menuju kehidupan kekal.
Dalam novel ini, Tere Liye, pria kelahiran 21 Mei 1979 itu juga mengangkat beberapa hadits yang dikaitkan dengan kisah Kak Lais. Membuktikan bahwa kisah ini tidak seringan kapas. Hadits yang menguatkan Kak Lais sebagai salah satu dari bidadari-bidadari surga. Demikian bunyinya:
“Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (QS Al-Waqiah: 22),
Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah.
Mereka baik lagi cantik jelita (QS Ar-Rahman: 70),
Bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (QS Ash Shaffat: 49)”
Dalam epilog novel ini, Tere-Liye menulis:
"Dengarkanlah kabar gembira ini. Wahai wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah ‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah), yakinlah, wanita-wanita shalehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur, kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar. Bidadari surga parasnya cantik luar biasa."
Hal lain yang menarik adalah pada beberapa kalimat awal dalam bab 39 (halaman 309) dan bab 44 (halaman 353).
"Terus terang, mengungkit masa lalu Laisa bukanlah bagian yang menyenangkan. Tetapi tidak adil jika kalian tidak tahu ceritanya. Apalagi untuk mengerti utuh semua kisah ini. Mengerti betapa Kak Laisa tulus melakukan semuanya. Maka, dengan melanggar janjiku kepada keluarga mereka, ijinkanlah aku menceritakannya."
Kemudian di bab 44, sebanyak dua halaman, pengarang menulis tentang perannya dalam cerita ini. Tere-Liye seakan menjadi saksi atas peristiwa dalam keluarga Lembah Lahambay. Dia juga salah satu penerima SMS mamak (selain keempat anak mamak) yang mengabarkan tentang kondisi Laisa menjelang kepergiannya.
Novel ini sangat layak diapresiasi! Di tengah situasi negara yang sudah bobrok dan krisis moral, Tere-Liye dengan cerdas dan menyentuh mampu mengangkat kisah yang sepela namun dapat dijadikan guru paling bijak dalam hidup paembaa. Apalagi jika kisah dibaca oleh ribuan bahkan jutaan pasang mata, maka suatu saat hikmah dalam novel ini akan memberi perubahan besar bagi Indonesia.

Jumat, 01 Juni 2012

Sepotong Surat

Lama aku ingin membuktikan bahwa kau pecundang. Ternyata semua itu keliru. Kesipulanku salah. Aku terlalu bodoh menafsirkan kata-katamu. Mas, sebentar lagi aku akan menerbitkan kumpulan puisiku. Judulnya bagus. Terima kasih atas inspirasi dari bau badanmu yang tetap wangi meski kau tak pernah memakai parfum. Aku juga terkesan kehalusan kakimu meski tak pernah kau lidungi dengan kaos kaki. Setujukah bila puisiku kuberi judul: Laki-laki Tanpa Parfum dan Kaos Kaki? Aku senang bersahabat denganmu. Tak lebih dari itu, karena aku tahu isterimu pencemburu.


Jujur aku mengagumimu dan selalu. Ada bentuk kepribadian lain yang kutemukan padamu. Dan itu sulit kujelaskan dengan kata-kata. Aku hanya bisa merasakan. Jika pun kekagumanku itu kuteruskan untuk memilikimu kemungkinan yang akan terjadi mudah kutebak. Aku terima kasih banyak.

Ada peristiwa paling kusukai sepanjang hidupku saat kau menciumku waktu gerimis kita menunggu kedatangan bus kota. Kemudian tanpa rencana kita berdua terdampar semalam di hotel pinggiran kota. Kau hebat, Mas. Kita tidur bersama sebatas kawan tempat berbagi pengalaman. Berkali-kali aku minta, kau tetap tersenyum bahwa semua itu hanyalah bentuk pelampiasan sesaat yang tidak baik bagi pikiran dan perasaan. Dampaknya lebih panjang ketimbang proses itu sendiri.

Aku sangat menghormatimu sebagaimana penghormatanku pada ayah dan suamiku walau kau tak sebrengsek mereka. Selamat malam. Tidurlah semoga hari-harimu esok lebih baik. Ati-ati, jaga diri baik-baik.


(Cak Sariban, "Wanita Tanpa Tisu, Laki-laki Tanpa Kaos Kaki: 91-93)

Selasa, 29 Mei 2012

Sajak Keseribu


Sejak purnama
Ringan menguntai aksara
Menata perasaan durja
Murung, berabu, dan berjelaga

Kembaranmu, Purnama!
Keras kepala!
Merajuk dan meminta
Membangunkan suhu sedang bertapa

Cerminanmu, Purnama!
Menuangkan kepingan-kepingan bahasa
Menuntun entah ke mana
Berkeliling, dalam balutan asa

Purnama, kumohon menyabitlah!
Sering kali kau tak mau dengar!
Relakan sempurnamu
Kutuliskan, ini sajak keseribu

Minggu, 20 Mei 2012

Ambang Batas yang Berbeda Tipis


Abang, aku melihatmu dalam bayangan cermin. Ya, tiba-tiba saja kau muncul. Di belakangku, siluet tipis yang menajam, semakin tajam, hingga terwujudlah sosokmu. Aku kaget setengah mati! Hendakku percaya ilusi itu, tapi takut-takut jikalau harapku tak bisa kuyakini.

Entahlah, Bang. Aku enggan menoleh ke belakang. Aku lebih senang melihatmu dari cermin ini. Sambil kusisir pelan rambut panjangku (yang sedikit) dan menjuntai ke depan. Sebenarnya, aku ingin bertanya satu hal; apa yang kau lakukan di situ, Bang? Sayangnya kerongkonganku tercekat. Bukan apa-apa, aku lebih nyaman, lebih betah memandangmu. Hanya memandangmu. Menyusur setiap detail yang ada padamu. Gestur wajahmu, lekuk tubuhmu, dan mili demi mili gerakmu.

Ah, Abang! Sesekali kau tersenyum. Tentu saja padaku, bukan? Bodoh saja jika kau tersenyum pada cermin di depanku. Bagaimana tidak? Di kamar ini hanya ada kita berdua. Kau dan aku.

Lantas kubalas dengan senyum pula. Sejujurnya, Bang, aku tahu aku hanya berkhayal. Tapi, aku masih tak habis pikir, kenapa aku berkhayal tentang kau. Bukan tentang yang lain. Apa karena aku merindukanmu yang tega pergi tanpa pamit?

Bang, kau lihat? Rambutku merontok. Semakin sering kusisir, semakin banyak yang jatuh. Astaga, Bang! Kau kenapa menangis? Kau tak tega melihat aku yang pucat? Percayalah, Bang. Istrimu ini tidak sedang kesakitan. Bukankah obatnya sudah di depan mata?

Kau mau mengajakku ke mana, Bang? Kenapa tiba-tiba kau menjulurkan tanganmu? Apa? Kau sungguh menyentuhku? Berarti ini nyata? Baiklah, Bang! Aku ikut kemana pun kau mengajakku. Tunggu sebentar, kurapikan dulu rambutku. Agar aku terlihat sedikit lebih cantik. Tak ada salahnya kan aku membuatmu betah untuk memandangku? Ayuk, Bang. Kita pergi berdua.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tunggu, Bang! Bukankah itu aku? Iya, yang terbaring di ranjang itu. Bukankah itu anak kita? Kenapa dia menangis di atas tubuhku, Bang? Ibu, ibu mertua, ayah? Semua menangis? Jangan kau diam saja! Jelaskan padaku, ada apa, Bang?

Suster? Loh,  kenapa mukaku ditutup kain putih? Bang, jawab! Tega sekali kau membuat istrimu ini bertanya terus! Mau dibawa ke mana tubuhku? Lalu?

Baiklah, aku mengerti sekarang. Jadi, kau mengajakku meninggalkan mereka? Iya, Bang. Mari kita pergi. Gandeng aku, Bang.

Jumat, 18 Mei 2012

Malam Bangsat

Jangkrik malas bercerita
Malam buta dingin menusuk
Ranting tertidur, daun mendengkur
Mendelik berat, terpejam pedas

Akhir-akhir ini malam bertabiat bangsat!
Katak tak mau membuka telinga
Debu bisu terbawa angin

Gelap memang bangsat!
Saraf-saraf mulai bermain
Bergelanggang dengan sabit
Memaksa, membangunkannya menjadi purnama

Pekat begitu bangsat!
Merujuk nestapa menyempurna
Kerling lintang berasa canggung
Terang-terang, remang-remang

Sangat bangsat!
Lancar melontar tempelak
Kejam menghujam
Tembus, berlubang
Dua bola kembar seketika berair

Senin, 14 Mei 2012

Riwayat Lembah Lawu


Biar, sejenak kubawa jiwaku ke lembah itu
dingin membeku, bersemilir syahdu
Biar, sejenak kumanjakan perasaanku
mengenang, tiada berharga selain dirimu

Di lembah itu, aku merintih
di lembah itu, jantungku memerih
Kupaksakan mematah rasa
kutekadkan mengamnesiakan kepala

Asal kalian tahu,
itulah riwayat lembah Lawu
yang menyaksikan pengecut baru
sedang memekik, sesenggukan pilu

Itulah riwayat lembah Lawu
tempatku merasakan hujaman peluru
ranahku menganggap tangis tak lagi tabu
ruang sang karma mengabolisikan diriku

Kurasakan dilema hati sedalam mungkin
meski tak ada enak-enaknya,
tetap saja, itu adalah akhir sebuah labirin

Jumat, 04 Mei 2012

Aku Sayang Bunda, Sayang Ayah


Yudha membuka album itu. Remaja 17 tahun itu sedikit risih dengan kotoran yang menempel di permukaan album. Banyak debu, kotor,  usang. Maklum, sudah bertahun-tahun album itu tertumpuk di gudang. Terdapat foto sebuah keluarga kecil dengan bebagai pose di dalamnya. Terdiri dari ibu muda. Ibu muda yang cantik, melebarkan senyumnya. Terlihat barisan giginya yang rapi. Di tengah, ada bayi kecil satu tahunan. Mata lebar. Pipi tembam dengan lesung manis. Bahagia sekali keluarga itu.

Yudha membuka pelan, mengamati lembar demi lembar album itu. Semakin ke halaman belakang, dahinya semakin mengernyit. Masalahnya, ia tidak mengenal satu sosok lain selain ibunya dan bayi kecil dalam album itu. Ya, sosok yang asing menurutnya. Laki-laki tinggi berkulit sawo matang yang duduk di sampingnya dalam foto itu. Matanya terang, kebapakan. Raut mukanya tampan, nyaris mirip dengan bayi kecil di sampingnya.

“Yudha, sudah ketemu, nak sketsa gambarmu?” bunda membuka pintu gudang, mencari putranya.
“Eh, belum, Bun. Susah nyarinya!” tak menoleh, masih tetap mengamati takzim gambar-gambar dalam album. “Bun, ini bunda, kan? Dan ini aku. Lantas, siapa laki-laki ini? Ayah?” masih tetap tak mengubah arah pandangnya dari album.

Bundanya diam. Sama sekali tidak ada jawaban. Sepersekian detik, tetap tak ada suara. Yudha menoleh, bundanya sudah teduduk di atas kursi bekas yang ikut memenuhi gudang itu. Terpaku, bulir air mata tak kuasa mengintip dan jatuh dari mata sendu bunda.

Tentu Yudha kebingungan. Ia takut ada yang salah dengan perkataannya tadi. Memang, Yudha selalu takut menyakiti hati bundanya. Ia terlalu menyayangi perempuan yang hidup bersamanya 17 tahun ini. Disentuhnya lutut bunda, menunduk, berlutut, isyarat permintaan maaf.

“Iya, dia  Ayahmu,” kata bunda tiba-tiba.
“Maaf, Bunda. Kenapa selama ini Bunda tak pernah mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang ayah? Bunda selalu bilang ayah baik-baik saja di suatu tempat. Tapi, Bunda tak pernah mau mengatakan tempat itu di mana. Seakan Bunda merahasiakan siapa ayah dariku,” Hening. “Aku ini anak ayah, Bunda,” nyaris berbisik. Yudha mendongak, menatap mata bundanya.
“Ayah sudah siap?”
“Siap tidak siap harus siap, Bun. Demi anak kita,” ayah tersenyum menenangkan kecemasan bunda. Di elusnya pelan perut bunda yang buncit besar.
“Sudahlah, Yah. Aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Aku memang tak pernah bisa membahagiakanmu.”
“Sssttt... Kau selalu membuatku bahagia. Kau pikir selama ini aku menikahimu karena apa? Tentu, karena tak akan ada wanita lain yang bisa kucintai sepertimu,” menyolek pipi bunda.
Bunda tersenyum. Betapa ia mencintai laki-laki di hadapannya itu.
“Tapi bagaimana dengan Ayah?”
“bagaiman apanya? Aku bukan pengecut. Aku masih bisa hidup dengan satu ginjal ini, sayang.”

Dan benar. Dua hari kemudian tubuh terbaring ayah sudah digelendeng penuh belalai menuju ruang operasi. Disusul sesosok tua yang mungkin sekarat. Sama halnya dengan ayah. Tubuhnya penuh belalai medis. Sesekali ia kejang-kejang, seakan tak sabar menunggu ginjal baru memperpanjang usianya.
“Ketika kau berumur satu tahun, ayahmu tega meninggalkan kita. Terlalu cepat Tuhan mengambilnya,” tangis bunda memecah sepinya gudang.
“Ka-re-na a-pa, Bun?” tanya Yudha hati-hati.
“Karena kebandelan ayahmu sendiri. Waktu itu ayah bohong sama bunda. Ayah bilang kalau kedua ginjalnya berfungsi baik. Tak masalah jika salah satu harus didonorkan pada kakek itu yang keluarganya berjanji membiayai semua operasi kelahiranmu. Bukan operasi persalinan biasa. Rahim bunda bermasalah. Dokter sudah bilang atas resiko kehamilan itu sebelumnya. Tapi bunda tak ingin mengecewakan ayah. Bunda memaksa mengandung. Bunda ingin menjadi wanita sempurna, Yudha. Yang bisa melahirkan kau.”
Yudha terdiam. Sesekali mengusap ujung matanya yang berair. Bagaimana tidak? Cerita bunda benar-benar menohok hatinya. Kenyataan ini seperti petir tanpa hujan yang menyambar pohon di siang bolong.
“Ternyata setelah ayahmu pergi, baru semua terbongkar. Dokter bilang memang ginjal yang tertinggal di tubuh ayah sudah rusak. Bahkan, sisa waktu ayah yang setahun itu termasuk keajaiban. Seketika bunda marah. Bunda berteriak. Ingin rasanya mengganti nyawa ayah dengan nyawa dokter itu. Entahlah, kala itu dokter lah yang paling bersalah menurut bunda!” suara bunda meninggi.
“Jadi, aku hidup dengan nyawa ayah, Bun?”
“Tidak, sayang. Kau tak tahu apa-apa tentang ini. Kau hanya korban. Ini terjadi atas keegoisan ayah dan bundamu. Itulah kenapa bunda merahasiakan semua ini. Bunda tak ingin kau merasakan apa yang bunda rasakan. Sakit, rindu dengan ayahmu, ingin berteriak, apapun itu, yang jelas sangat tidak enak. Maafkan kami, Nak,” anak dan ibu itu saling memeluk. Menangis bersama.
“Aku sayang sama bunda, sama ayah. Aku yakin, sekarang kita bertiga tak bersama di sini, Bunda. Tapi kita akan berkumpul nanti, di waktu yang tepat dan tempat yang lebih baik.”
Bunda mengangguk mengerti. Tersenyum. Betapa ia bangga dengan putranya. Berjiwa besar, mengerti apa arti sebuah pengorbanan.

Menurutmu, Apa Judulnya?


Berkali-kali aku melihat jam tangan. Di sebuah kafe yang sudah kita sepakati, aku menunggumu. Di luar hujan. Aku mengetahui itu dari dinding kaca kafe yang berembun.

Saat itu pertama kali kita bertemu setelah sebulan lalu kau meminta nomor handphoneku pada teman dekatmu, yang juga temanku. Awalnya aku risih. Bagaimana tidak? Kau mengajak kenalan dengan cara yang tidak mutu menurutku. Kau SMS hampir setiap jam, missed call berkali-kali, dan setiap kutanya siapa kau dan ada perlu apa, kau tak pernah menjawabnya. Hingga kau akhirnya menyerah ketika panggilan dan SMS-mu sama sekali tak kuindahkan. Jangan kau pikir aku seperti gadis-gadis SMA lain yang menanggapi dengan sms, diteruskan pendekatan, lantas jadian. Tidak! Itu norak.
“Elsa?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkan lamunanku. Seorang laki-laki sepantaranku dengan baju dan rambut basah telah berdiri di hadapanku.
“Eh, iya aku Elsa. Ivan?” sahutku. Kuulurkan tanganku, mengajakmu bersalaman. Tanganmu dingin, bibirmu juga membiru. Aku tahu kau kedinginan. Tak tega. Kulepas jaket kuningku. “Nih, pakai!” kataku ketus sambil mengulurkan jaket.
“Thanks,” kau bilang sambil tersenyum canggung.
Entah mengapa obrolan malam itu mengalir begitu saja. Kau selalu bisa membuatku tertarik dengan topik pembicaraan yang kau pilih. Sejak awal, aku suka nada bicaramu, aku suka wangimu meski sudah sedikit samar karena basah. Aku juga nyaman berada di dekatmu. Sampai aku tak merasakan dinginnya hujan malam itu.

Sejak pertemuan pertama itu aku tak pernah bisa tidur. Aku selalu menunggu handphoneku berdering. Berharap itu SMS darimu yang rutin mengucapkan “selamat tidur, gadisku. Aku tak berharap kau memimpikan aku. Aku hanya ingin kau tidur dengan perasaanmu yang selalu bersamaku. Ivanmu.” Aku senang dengan perhatianmu.

Seminggu kemudian, kau mengajakku ke toko buku. Entah itu hanya modusmu atau kau memang sedang memerlukan sebuah buku, yang jelas akulah gadis paling bodoh jika bilang “tidak” untuk ajakan kencan kedua ini.

“Aku sudah di depan,” SMS-mu. Kau datang menjemputku tepat pukul tujuh malam. Aku bergegas, seakan tak ingin kau menungguku terlalu lama. Ya, kalau kalian tahu, itulah penampilan paling rapiku selama ini. Kusaut helm, lalu berlari kecil menuju halaman.

Astagaaa, apa yang terjadi? Kau menjemputku dengan sepeda! Tuhaan, baru kali ini.
“Untuk apa bawa helm? Maaf, aku cuma punya ini,” kau tersenyum, mengarahkan bola matamu ke setir sepeda.
“Oh, iya deh. Sebentar, aku masukin helm dulu, ya?”
“Oke.”
Tak lama, aku kembali. Ini kencan pertamaku dengan sepeda. Kau memboncengku di belakang. Awalnya aku agak mengkal, tak nyaman. Tapi kau masih sama ketika kita pertama bertemu seminggu yang lalu. Kau banyak bicara, dan selalu asik. Aku mulai mengikuti permainanmu. Mengoceh sepanjang jalan, ramai di toko buku sampai ibu-ibu marah dengan kegaduhan kita. Yah, justru malam itu berakhir menyenangkan.

Hingga beberapa kali kau mengajakku jalan. Selalu dengan sepeda itu. Aku mulai terbiasa. Aku mulai menyukai berkencan dengan sepeda. Iya, aku sangat suka. Sampai akhirnya, kita jadian. Memang terlalu cepat. Tapi aku tahu kau menyayangiku. Pun demikian dengan aku. Aku mencintaimu.

Sayang, kau memutuskan mati sebelum waktunya. Kau menyayat pergelangan tanganmu dengan silet. Entah apa yang menjadi alasanmu. Kau ditemukan terkapar dalam kamar mandi. Tak bernyawa, pergi. Aku amat terpukul. Bahkan, bisa dibilang aku sedikit stres.

Bisa kalian bayangkan? Aku mendadak suka naik sepeda kemana pun. Aku suka ngomong sendiri di jalan ketika bersepeda. Curhat pada udara tentangmu. Aku percaya ia takkan ember. Aku bilang sedang rindu padamu, aku selalu suka wangimu, aku suka semua tentangmu.
“Sedang apa kau?”
“Oh, ini. Sedang ngarang aja! Nggak ada kerjaan dan tiba-tiba inspirasiku mati. Jadi, aku nggak nemuin ending yang bagus.”
“Teruskan saja nanti kalau sudah ada inspirasi.”
(Ini ceritanya curhat, gagal bikin cerpen! L Sekali-kali cerpen gagal dipost. J)