Tampilkan postingan dengan label Sajak dan Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak dan Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Desember 2015

Maka, Kumohon Datanglah..

Aku rindu hujan...
Tanah dan atap-atap rumah yang basah kecokelatan. Aroma yang sempurna untuk mengingat. Dingin yang pas untuk memeluk lutut. Bertopang dagu, memejamkan mata menatap yang tak mampu dilihat dengan mata. Tentu saja akan datang yang lebih ramai dibandingkan suara gemercik air dari langit.

Aku rindu hujan...
Suara dan kilatan petir yang keras. Menyentak apapun yang sebelumnya tenang. Lebih baik mengurung diri di balik selimut, menutup telinga. Lalu akan terdengar yang lebih berisik dibandingkan halilintar yang bersahutan kala badai.

Aku rindu kau..
Semakin sempurna rinduku karena malam dan hujan. Sendirian, aku kau buat ramai gaduh. Kesepian, aku kau buat berdesakan di antara kenangan dan harapan. Begitulah jika aku tanpa kau. Aku butuh nyaman, aku butuh hangat. Maka, kumohon datanglah. Peluk aku di antara kedua lenganmu dan tenangkan aku dengan satu dua kecupan bibirmu di keningku..

Senin, 16 Februari 2015

Sebutir Rasa



*Backsong: Dealova by Once
Sebutir rasa yang sejak lama telah tersemai dengan sendirinya. Butir itu menumbuhkan akar di sekujur tubuhnya. Mencengkeram bongkahan hati, kemudian berkembang di sana. Sungguh aneh, ketika tumbuhnya terlalu pesat, tanpa pupuk, tanpa ada yang mengairi. Bahkan, sekarang sebutir itu telah menjadi pohon yang kokoh, berbuah sampai jatuh, menyemai butir baru. Kini, entah sudah berapa ratus, ribu, bahkan juta pohon kokoh yang terus berkembang di taman hati.
Tentu, semua orang tau bahwa tulisanku tak akan jauh dari perihal kamu. Tak terkecuali kali ini. Pohon-pohon itu makin menjadi-jadi. Pohon-pohon itu terkadang begitu munafik, Sayang. Ada kalanya ia berbunga, wangi, indah. Ada kalanya bunga itu gugur tiba-tiba, lalu tumbuh benalu yang begitu memberatkan tangkai-tangkainya. Pergantiannya tak tentu. Begitu merepotkan sang pemilik taman hati. Tentu saja, sang pemilik berusaha keras mengurus taman itu agar tetap indah, setidaknya benalu tidak merundukkan dahan-dahan pohonnya. Dengan cara apapun, dengan jalan manapun, tak segan ditempuh.
Taman hati itu layaknya sebuah harapan, Sayang. Terus diusahakan hingga suatu hari nanti taman itu bisa subur dengan pohon-pohon yang berbunga indah, banyak dihinggapi serangga pemburu nektar. Dan taman-taman di negeri-negeri dongeng akan benar-benar nyata, dengan kastil tinggi lebar di ujungnya, berpenghuni seorang raja dan ratu.
Siapa yang mau harapan itu dicacah oleh luka? Tapi, jika pada akhirnya harus demikian, tak usah kau tanya seberapa sanggup pemilik taman berlapang dada. Karena sesungguhnya selapang-lapangnya hati seseorang adalah ketika ia ikhlas memberikan waktunya untuk merawat sesuatu yang siapa tau nantinya justru akan mengoyak jiwanya dan merusak tubuhnya.

Minggu, 01 Juni 2014

Langit dan Laut



Tentang sebuah kebohongan, dari semburat jingga dan senja
Kepada langit, juga kepada laut

Tanyakan pada langit, apakah ia pernah bertemu dengan laut?
“tidak, langit hanya selalu bercermin pada indah air kacanya”, camar mewakili langit
Demikian pula pada laut, apakah ia pernah berjumpa dengan langit?
“tidak, laut hanya mampu melihat kemegahannya dari jauh”, karang menyulihi laut

Lalu, ketika kau di pinggir pantai petang hari, apa yang kau lihat?
Langit, laut, dan setengah matahari tengah bersenggama.
Akrab, dekat, tapi sejatinya mereka jauh, tidak pada satu tempat.

Apa lagi yang bisa kau percaya dari senja?
Bahkan keindahan merah keunguannya palsu.
Ia hanya berpura-pura mempertemukan dua hal yang jauh,
Tak ada seujungpun yang akan mempersamakan.

Apa lagi yang bisa kau andalkan dari senja?
Bahkan, ketika pasir melegam, matahari nyaris karam, ia pergi.
Menghitamkan perahu-perahu nelayan, menyisakan debur yang sepi
Kembali meninggalkan langit dan laut sendirian dalam ketidakbersamaan
Malah terkadang menjejakkan mendung, membuat langit menangis
Dan laut terhunjam buliran hujan
Berkat senja, kini langit dan laut saling tersakiti
Auliya Ulfa

Minggu, 22 Desember 2013

Ada Seseorang...

Ada seseorang dalam hidupku, ketika ia pergi akan membawa sepotong hatiku..
Ada seseorang yang tanpa sadar melukaiku, tapi aku tak pernah berniat membalasnya, selalu ikhlas menerimanya..
Ada seseorang yang ketika ia bahagia, aku akan ikut bahagia. Meskipun bahagianya bukan denganku..
Ada seseorang yang ketika ia terluka, aku akan ikut terluka. Dan di saat apapun, aku akan selalu ada untuknya.

Hakikat perasaan adalah ketika semua masih bisa dirasakan. Selapang-lapangnya hati adalah ketika ia ikhlas menerima apapun yang tidak diharapkan. Ketahuilah, asumsi "Cinta harus memiliki" sejatinya kudu disilang besar-besar dalam pikiran.

Tentang mencintai dan menunggu, iya, hanya itu pekerjaan perempuan. Boleh jadi, memang kodratnya begitu. Resiko? Cukup berat. Ketika ujungnya benangnya tidak ketemu, maka benang itu sendiri yang akan menyayat perasaannya..

Jumat, 15 November 2013

Rindu dan Pengabaian

Semenjak itu, semenjak kau tinggalkan bekas pada kesunyian
Seseorang merindumu sekian musim

Kesakitan bukan lagi rasa yang asing
bukan lagi dentingan musik yang mengiris
kesakitan adalah kawan
kawan yang setia mengantarnya ke pintu kenyamanan

Bahkan, ketika malam menidurkannya dalam senyap luka
ia masih bisa nyenyak

Sebab, rindu dan pengabaian yang mempertemukannya dengan segala bentuk mata pisau
mata pisau yang ujungnya berkilat, siap menyayat

Sebab, rindu dan pengabaian memaksa hatinya untuk membaja
hingga suatu saat mata-mata pisau itu bengkok
kelelahan dan menyerah!

Hatinya keras, beku, tak mau tahu tentang apapun
kecuali biang rindu yang diembannya



Madiun, 15 November 2013

Jumat, 08 Maret 2013

Selembar Gerimis dalam Buku Malam

Terkungkung rindu. Tebal kabut kian membeku. Ada, pasti ada. Kondisi ini diciptakan Tuhan dengan sengaja. Bayangan mendekam kaku, memeluk lutut. Ada yang ganjil! Si Buta melihat Si Bisu sedang tidur. Si Bisu mengigau, mengucap serapah untuk Si Buta. Kerongkongan beku tercekat!
 
Di sudut pekat, malam membuka lembar demi lembar bukunya. Terus, hingga sampai pada sebuah halaman. Namanya "lembar gerimis". Lembar itu yang paling basah ketimbang lembar yang lain. Tinta yang menyetubuh dengan kertasnya pun kedinginan, lalu luntur. Malam heran tak terkira.

Tak ingin lembar yang lain ikut basah, malam merobek lembar gerimis. Padahal, lembar gerimis layaknya jantung buku itu. Bayangkan! Jantung yang dilepas paksa dari tubuhnya, bagaimana rasanya? Tapi, lembar gerimis tak menangis, bersedih, atau mendendam. Meski berdarah-darah, ia tak ingin tubuhnya semakin basah.

Itulah sebabnya, mengapa Si Bisu menyumpahi Si Buta. Siapa yang tahu kalau malam yang merobek lembar gerimis, ternyata bukanlah malam yang sesungguhnya. Ia adalah jelmaan dingin yang bertabiat iblis. Si Buta tak bisa menjaga buku malam dengan baik ketika Si Bisu lengah sebentar. Ia terlalu mudah terkecoh dengan muslihat dingin.

Yah, dan Si Bisu dan Si Buta, yang dipercaya malam untuk menjaga bukunya, telah menyihir dingin menjadi beku yang tercekat! Dan mereka sendiri? Menunggu sanksi dari malam yang masih tertidur pulas. Bertanggungjawab atas kelalaian mereka. Menungu yang tak berbatas waktu. Karena, entah kapan malam akan bangun dari tidur panjangnya.

Minggu, 17 Februari 2013

Ada yang Selalu Hidup; Sapardi Djoko Damono :)

AIR SELOKAN
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.
Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

AKU INGIN
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

AKULAH SI TELAGA
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ANGIN, 1
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, "hei siapa ini yang mendadak di depanku?"
angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi
-- sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di tengah bising-bising ini tanpa Hawa

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ANGIN, 2
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ANGIN, 3
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

"Seandainya aku bukan ......
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.
"Seandainya aku . . . ., ."
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
"Seandainya ......
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

CARA MEMBUNUH BURUNG
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

bagaimanakah cara membunuh burung yang suka berkukuk bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?
soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka berkicau setiap pagi meloncat dari cahaya ke cahaya di sela-sela ranting pohon jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KEPOMPONG ITU
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan
kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga
dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KETIKA MENUNGGU BIS KOTA, MALAM-MALAM
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Hus, itu bukan anjing; itu capung!" katanya. Tapi capung tak pernah terbang malam, bukan? Capung tak suka ke tempat sampah
-- biasanya ia hinggap di ujung daun rumput waktu pagi hari,
dan kalau ada gadis kecil akan menangkapnya ia pun terbang ke balik pagar sambil mendengarkan suara "aahh!" Tubuhnya mungil, bukan?
Sedangkan yang kulihat tadi jelas anjing kampung yang ekornya buntung, menjilatjilat tempat sampah yang di seberang halte itu, mengelilinginya,
lalu kencing di sudutnya.
Hanya saja, aku memang tak melihat ke mana gaibnya.
"Itu capung!" katanya. Sayang sekali bahwa kau merasa tak melihat apa pun di seberang sana tadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KISAH
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu. Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUKIRIMKAN PADAMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUTERKA GERIMIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

LIRIK UNTUK LAGU POP
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis
-- pandangmu adalah seru butir air tergelincir dari duri mawar (begitu nyaring!); swaramu adalah kertap bulu burung yang gugur (begitu hening!)
aku pun akan memecah pelahan dan bertebaran dalam hutan; berkilauan serbuk dalam kabut
-- nafasmu adalah goyang anggrek hutan yang mengelopak (begitu tajam!)
aku akan berhamburan dalam grimis dalam seru butir air dalam kertap bulu burung dalam goyang anggrek
-- ketika hutan mendadak gaib
jangan pejamkan matamu:

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

MATA PISAU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

DI SEBUAH HALTE BIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana. Kau memang tak pernah berumah, dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk dan tampak putih.
Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk. Bis tak kunjung datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu. Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabok, berjalan sempoyongan sambil melempar-lemparkan buku dan menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PERAHU KERTAS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit."

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PESAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.
Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PESTA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

pesta berlangsung sederhana. Sedikit tangis, basa-basi itu; tinggal bau bunga gemetar pada tik-tok jam, ingin mengantarmu sampai ke tanah-tanah sana yang sesekali muncul dalam mimpi-mimpinya
. . . di sumur itu, si Pembunuh membasuh muka, tangan, dan kakinya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

TUAN
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang ke luar.

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,

1982.

SAJAK SUBUH
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air. Mereka berteriak, "Jangan bermimpi!" dan ia terkejut tak mengerti.
Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi. Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya.
"Jangan bermimpi!" gertak mereka.
Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, "Jangan bermimpi! "
Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan .....

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SAJAK TELUR
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung
semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin
memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SETANGAN KENANGAN
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Siapakah gerangan yang sengaja menjatuhkan setangan di lorong yang berlumpur itu. Soalnya, tengah malam ketika seluruh kota kena sihir menjelma hutan kembali, ia seperti menggelepar- gelepar ingin terbang menyampaikan pesan kepada Rama tentang rencana ....

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SIHIR HUJAN
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



SUDAH KUTEBAK
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Sudah kutebak kedatanganmu. Seperti biasanya,
kau berkias tentang sepasang ikan yang menyambar-nyambar umpan sedikit demi sedikit,
menggosok-gosokkan tubuh di karang-karang,
menyambar, berputar-putar membuat lingkaran,
menyambar, mabok membentur batu-batuan.
Kutebak si pengail masih terkantuk-kantukdi tepi sungai itu.
Sendirian.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TAJAM HUJANMU
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


TEKUKUR
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Kautembak tekukur itu. Ia tak sempat terkejut, beberapa lembar bulunya lepas; mula-mula terpencar di sela-sela jari angin, satu-dua lembar sambar-menyambar sebentar, lalu bersandar pada daun-daun rumput. "Kena!" serumu.
Selembar bulunya ingin sekali mencapai kali itu agar bisa terbawa sampai jauh ke hilir, namun angin hanya meletakkannya di tebing sungai. "Tapi ke mana terbang burung luka itu?" gerutumu.
Tetes-tetes darahnya melayang : ada yang sempat melewati berkas- berkas sinar matahari, membiaskan wama merah cemerlang, lalu jatuh di kuntum-kuntum bunga rumput.
"Merdu benar suara tekukur itu," kata seorang gadis kecil yang kebetulan lewat di sana; ia merasa tiba-tiba berada dalam sebuah taman bunga.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

TELINGA
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

"Masuklah ke telingaku," bujuknya.
Gila
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci -- setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
"Masuklah," bujuknya.
Gila ! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

TENTANG MATAHARI
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh,
adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata :
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.

YANG FANA ADALAH WAKTU
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.