Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2016

Resensi Buku Tere Liye "Tentang Kamu"


   Thompson & Co., sebuah firma hukum yang berdiri takzim di Belgrave Square, London. Firma hukum ini sama sekali tidak megah, tidak glamor, namun namanya selalu disebut dengan penuh kehormatan. Hanya pengacara-pengacara terbaik yang bisa bekerja di firma hukum ini. Dan, Zaman, adalah satu diantaranya.
      
Zaman Zulkarnaen. Pemuda asal Indonesia berusia 30 tahun, salah satu “ksatria” terbaik yang dimiliki oleh Thompson & Co. Bukan. Buku ini sama sekali bukan tentang kehidupan pribadi Zaman, apalagi menceritakan kisah cintanya. Bahkan tentang asmara Zaman hanya dibahas tidak lebih dari satu bab saja dari keseluruhan 33 bab buku ini.
      
Kisah dimulai ketika salah satu klien Thompson & Co. wafat di Paris. Meninggalkan warisan sebesar satu miliar poundsterling, atau setara dengan 19 triliun rupiah, dalam bentuk saham.

Adalah Sri Ningsih. Meninggal pada usia 70 tahun. Wanita pemegang paspor Inggris dan izin menetap di Perancis. Sayangnya, klien ini belasan tahun terakhir menghabiskan hari-harinya di panti jompo. Ya, orang kaya raya ini melewati masa tuanya di tempat yang tidak semestinya ia berada. Mengingat harta yang ditinggalkannya sekian besar, bahkan ia bisa hidup di rumah atau apartemen mewah dan serba berkecukupan. Namun, tidak demikian bagi Sri Ningsih.
      
Sri Ningsih kecil tidak lain adalah anak seorang nelayan dari Pulau Bungin, Sumbawa. Ibunya, Rahayu, meninggal ketika melahirkannya. Ayahnya, Nugroho, kemudian menikah lagi dengan Nusi Maratta, perempuan asli Pulau Bungin. Sri hidup bahagia dengan keluarga barunya. Nugroho dan Nusi begitu menyayanginya. Sayangnya, semua harus berakhir ketika Nugroho tak kunjung pulang dari melaut berhari-hari. Hingga kabar itu datang, Nugroho tenggelam tanpa ditemukan jasadnya. Kedua kalinya, Sri harus kehilangan orang yang begitu berarti dalam hidupnya.
       
Kematian Nugroho membuat Nusi Maratta berubah watak 180 derajat. Jangankan menyayangi Sri seperti dulu. Bahkan, Nusi menganggap Sri adalah anak pembawa sial. Ia tega menyuruh-suruh Sri yang baru berusia belasan tahun untuk mencari teripang dan bulu babi yang nantinya akan dijual. Hasilnya digunakan untuk keperluan sehari-hari. Sri juga harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa terkecuali. Tak jarang Sri harus tidur di teras bersama tampias hujan atau tak dapat jatah makan hanya karena kesalahan kecil, yang terkadang sebenarnya tidak ia perbuat. Namun, Sri menjalaninya dengan ikhlas karena bagaimanapun ia tetap menyayangi Nusi dan Tilamuta, adik tirinya yang masih balita. Bagi Sri, tinggal mereka berdua harta terbesar yang ia miliki.
      
Musibah tampaknya masih enggan berhenti menguji hidup Sri Ningsih. Sri melihat rumahnya terbakar ketika ia pulang dari makam Rahayu di pulau seberang. Ia bergegas menyelamatkan Nusi dan Tilamuta. Ia pertaruhkan nyawanya saat itu. Sayangnya, lagi-lagi, Sri harus kehilangan. Nusi tak berhasil ditolong. Namun, baginya harus tetap ada yang patut disyukuri di balik musibah apapun. Sri masih punya Tilamuta. Tilamuta selamat dan kini menjadi harta satu-satunya yang dimiliki Sri.

Sri dan Tilamuta hidup menumpang sana-sini, terlunta sejak kecil. Bagaimana bisa Sri lantas berkeliling dunia? Bagaimana mungkin ketika ia wafat meninggalkan warisan yang bernilai fantastis? Bahkan, nyaris setara dengan kekayaan Ratu Inggris.
      
Dan, Zaman, sebagai junior lawyer yang baru bekerja kurang lebih empat tahun di Thompson & Co., dituntut untuk melakukan settlement atas kasus ini dengan seadil-adilnya. Menyusun puzzle sepotong demi sepotong kehidupan Sri Ningsih. Menelusuri 70 tahun ke belakang kehidupan Sri Ningsih untuk menemukan siapa yang berhak atas warisan yang ia tinggalkan. Mengunjungi tiga negara, lima kota, untuk menemukan beribu luka seorang Sri Ningsih. Jika Zaman berhasil atas kasus ini, jabatan lebih tinggi akan didudukinya. Namun, sungguh, bukan itu tujuan Zaman menerima kasus ini. Sama sekali bukan.
     
Dari petualangannya menguak kehidupan Sri, Zaman berkenalan dengan banyak orang baik tanpa pernah menemui mereka secara langsung. Nuraini, keluarga Kiai Maksum, Hakan, keluarga besar panti jompo, dan keluarga Rajendra Khan. Juga orang-orang bertabiat buruk yang bahkan kejahatannya terhadap Sri dapat pula Zaman rasakan meski ia hanya tahu melalui cerita saksi-saksi kunci. Mbak Lastri, Mas Musoh. Dan berkat kasus ini juga, Zaman bertemu dengan Madame Aimee, cintanya. Tentu, harus membaca buku ini untuk mengenal mereka satu per satu.
      
Buku ini bicara banyak tentang tiga hal besar. Pertama, kesabaran yang tiada henti akan membawa kebahagiaan pada waktunya. Kesabaran yang tidak pernah putus akan membuat hati jauh lebih tenang dan terhindar dari dengki dendam. Kedua, prinsip hidup yang kokoh meski dihajar musibah sedemikian banyak dan berat. Dan terakhir, tekad kuat dan kejujuran. Ketiganya akan beriringan mengantar siapapun pada mimpinya. Bahkan mimpi yang kata orang mustahil sekalipun.
      
Tere Liye sangat cerdik menempatkan setiap alur kisah ini. Pertanyaan sekaligus jawabannya akan muncul silih berganti sepanjang membaca buku ini. Gaya bercerita khas Tere Liye yang teramat mendetail dan mengalir membuat pembaca seperti benar-benar menyelam dalam cerita. Seakan benar-benar sedang di Paris bersama Sri, sedang naik bus merah khas London yang dikemudikan Sri, sedang ikut Sri menyikat kakus pesantren, seperti ikut kemana pun Sri Pergi. Kalimat yang digunakan pun sederhana, namun sarat emosi dan cukup membuat pembaca mengangguk kemudian terpejam membenarkan berkali-kali.
       
Membaca buku ini sedikit banyak membuka hati dan pikiran, bahwa hidup harus selalu disyukuri. Semenyakitkan apapun, hidup akan mengobati setiap luka-luka yang dirawat oleh pemiliknya. Sebanyak apapun kehilangan, hidup akan tetap berpihak pada hati-hati yang ikhlas. Hidup akan membela siapapun yang benar. Hidup akan menempa siapapun yang senantiasa sabar.

Senin, 07 Desember 2015

Maka, Kumohon Datanglah..

Aku rindu hujan...
Tanah dan atap-atap rumah yang basah kecokelatan. Aroma yang sempurna untuk mengingat. Dingin yang pas untuk memeluk lutut. Bertopang dagu, memejamkan mata menatap yang tak mampu dilihat dengan mata. Tentu saja akan datang yang lebih ramai dibandingkan suara gemercik air dari langit.

Aku rindu hujan...
Suara dan kilatan petir yang keras. Menyentak apapun yang sebelumnya tenang. Lebih baik mengurung diri di balik selimut, menutup telinga. Lalu akan terdengar yang lebih berisik dibandingkan halilintar yang bersahutan kala badai.

Aku rindu kau..
Semakin sempurna rinduku karena malam dan hujan. Sendirian, aku kau buat ramai gaduh. Kesepian, aku kau buat berdesakan di antara kenangan dan harapan. Begitulah jika aku tanpa kau. Aku butuh nyaman, aku butuh hangat. Maka, kumohon datanglah. Peluk aku di antara kedua lenganmu dan tenangkan aku dengan satu dua kecupan bibirmu di keningku..

Selasa, 24 November 2015

Apa Namanya?


Apa namanya? Ketika kamu benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan seseorang. Ketika semua yang kamu lihat, kamu sentuh, dan kamu rasakan menjelma menjadi dia. Entah itu hanya halusinasimu, atau memang dia benar-benar sudah menjalari seluruh indera dalam tubuhmu.

Apa namanya? Ketika kamu benar-benar mencemaskan seseorang. Ketika kamu sangat takut hal buruk terjadi padanya. Ketika kamu selalu mengkhawatirkan keadaannya. Ketika kamu begitu ingin selalu di dekatnya, menghalau segala luka dan duka yang hendak menyambanginya sejauh yang kamu bisa. Bahkan, jika tubuh dan rasamu pun harus ikut terluka, mungkin bagimu itu tidak seberapa jika dibanding dia yang harus menanggung duka.

Apa namanya? Ketika yang ada dibenakmu adalah tentang kebahagiaan seseorang. Melihat tawa dan senyumnya menjadi hal yang begitu menenangkan. Ketika kamu sangat takut membuatnya merasa tidak nyaman.

Dan, apa namanya? Ketika kamu benar-benar takut akan kepergian seseorang dari hidupmu. Seperti ada yang kamu sesali ketika dia pergi. Bukan, bukan menyesali apapun tentang dia. Melainkan menyesali dirimu sendiri, lalu kamu berpikir ulang apakah ada yang salah dari tindakanmu sehinga dia begitu saja menjauh?

Sayangnya, aku juga tidak mengerti mengapa demikian. Aku juga tidak tahu semua itu apa namanya. Karena, perasaan yang lebih dari itu tengah menimpaku saat ini.

Dia, adalah penting dalam keseharianku. Kabarnya menjadi salah satu kewajiban untuk kucari tahu. Apakah dia sehat? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia bahagia? Ke mana saja dia hari ini? Apa saja yang dia lakukan? Dan, bersama siapa kah dia? Sialnya, aku tidak bisa menanyakan semua itu kepadanya. Aku harus cari tahu dengan caraku sendiri. Meski pada akhirnya, tak jarang aku gagal mendapatkan apa yang ingin ku ketahui.

Entahlah, itu apa namanya. Yang jelas, selalu memberi yang terbaik untuknya adalah deretan keinginan yang selalu kuusahakan. Apa pun, asalkan dia bahagia.

Apa namanya?

Minggu, 26 April 2015

Entah Kapan, Sebelum Aku Menyerah...

*Backsong: I Surrender - Celine Dion

I know I can't survive
Another night away from you
You're the reason I go on
And now I need to live the truth
Right now, there's no better time
From this fear I will break free
And I'll live again with love
And no they can't take that away from me
And they will see...

I'd surrender everything
To feel the chance to live again
I reach to you
I know you can feel it too
We'd make it through
A thousand dreams I still believe
I'd make you give them all to me
I'd hold you in my arms and never let go
I surrender

Penggalan lirik itu mungkin mengawali pebicaraanku malam ini. Pembicaraanku dengan diriku sendiri. Aku kepada aku. Bukan kepada siapapun. Sayangnya, tentu saja perkara aku adalah tentang dia. Dia yang sejauh ini masih tetap kokoh di tempatnya. Dia yang selama ini masih memberi setitik labirin untuk hatiku. Sayangnya lagi, ia tidak memberikan hal yang sama kepada logikaku. Aku sadar, aku bodoh karena dia, dan aku bodoh untuk dia.

Aku bahkan tak pernah tahu kapan semua ini dimulai. Kapan dia mulai membangun kerajaannya. Aku juga tidak pernah memahami ke mana aliran itu menjatuhkan dirinya. Yang aku tahu, semuanya terlanjur basah. Dan aku belum melihat pintu terakhir dari semua ini. Masih lorong yang gelap, bahkan bercabang yang aku sulit untuk memilih jalan mana yang benar.

Entahlah, ketika mendengar tentang dia, tubuh serasa tidak berotot. Lemas. Lemas yang kunikmati. Aku tak berdaya, tapi aku menikmatinya. Aku tak bisa apa-apa, tapi aku enggan beranjak. Aku kalah, karena memang telak, aku selalu memenangkan dia. Aku bodoh, lagi-lagi.

Aku tahu, aku bukan yang terbaik untuk merawat apa yang dia punya. Tapi, aku punya cukup kesabaran untuk mendampingi perjalanannya. Aku yakin, dia juga merasakan hal itu. Meski pada akhirnya aku harus tetap melihat orang lain merawat segalanya yang dia punya, setidaknya aku pernah berusaha. Entah kapan, sebelum aku menyerah........

Rabu, 16 Juli 2014

Perihal Kamu

Pertimbangan apa lagi yang harus kujadikan alasan untuk tetap mempertahankanmu? Ketika semua yang kuharapkan tak lagi menjadi keinginanmu. Antara ujung runcing jarum dengan lubang tumpul pengait benang sampai kapanpun akan sulit bertemu. Antara langit dan laut yang sampai kapanpun tak akan bertukar tempat. Hanya saling berkaca, mustahil berpapasan atau bahkan membias jadi satu. Mungkin senja. Tapi bukankah senja akan selamanya menjadi pembohong? Terlihat indah, tapi sejatinya ia tak ada. Kosong. Mempertemukan tapi tidak mempersatukan.

Pertimbangan apa lagi yang harus kuukur agar aku tetap mempertahankanmu? Sedangkan pelangi yang hendak kamu raih telah kamu dapatkan satu per satu warnanya. Dan aku? Masih terpaku di tanah. Bisu dengan semua yang terjadi, lelap dalam mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.

Terkadang, aku mengurai sendiri silogisme tentang dua hal yang dekat. Kubolak-balik berulang-ulang, kupaksa harus berhubungan, mencari jalan agar bertemu satu sama lain, tapi sebenarnya keduanya tak saling terkait. Aku dan kamu. Jadi, lagi-lagi silogisme itu palsu.

Apa yang bisa aku lakukan lagi? Selain membatasi diriku sendiri untuk terus berkutat dengan apapun tentang kamu. Aku bukan lelah. Aku hanya tidak mau memaksakan yang sampai kapanpun tidak akan pernah terjadi.

Kamu tahu hakikat cinta? Perasaan suka yang kemudian mendatangkan rindu. Aku selalu memaknainya dengan sederhana. Sesederhana mawar yang sampai kapanpun akan menjaga warnanya agar tetap merah. Sesederhana luka yang pasti akan mengering meskipun entah kapan dan berapa lama. Sederhana, kesulitan yang sederhana.

Kamu tahu perihal cinta, rindu, dua ujung jarum, langit, laut, senja, pelangi, mawar, dan tanah yang kusebut barusan? Adalah sebuah kesempurnaan yang tidak sempurna yang dapat kukatakan untuk menggambarkan kamu. Setidaksempurna apapun kamu, adalah yang paling sempurna dari siapapun hati yang pernah kukenal. Terima kasih untuk selama ini. Terima kasih kamu selalu berhasil membuatku bangga. Dan terima kasih kamu tak pernah gagal untuk membuatku selalu bersyukur.

Maaf, jika selama ini aku terlalu erat menggenggam pergelanganmu. Sekarang, aku lepas. Terbanglah. Sampai kamu berhasil melengkapi warna pelangimu. Tapi, ada satu hal yang harus kamu cetak tebal dalam pikiranmu. Ketika suatu saat kamu memutuskan untuk kembali ke tempat ini, maka kamu masih akan menemukanku. Di hatimu, dan di hatiku.

Selasa, 13 November 2012

Terlanjur

"Siapa suruh aku mencintaimu?"

Dan aku harus menjawab apa atas pertanyaan itu? Mencintai bukan sebuah kesengajaan. Ia datang tiba-tiba dan tanpa sopan memenuhi ruang pikiran dan rongga hati. Lantas kau menyalahkanku? Terserah! Kepalang tanggung, sudah terlanjur!

Apapun, yang sudah terlanjur memang sulit dihentikan. Tapi bukan berarti tidak bisa. Hanya saja aku tidak mau melakukannya. Untuk apa aku memaksa perasaanku untuk berhenti melakukan apa yang dia mau, sedangkan aku sendiri merasa itu sebuah keadaan yang "comfort"? Sakit yang nyaman lebih tepatnya.

Ada sebuah ketertarikanku atas dirimu. Fisik? Jelas! Kau tampan, apa adanya. Ah, tapi itu tidak penting. Jika ada daftar prioritas, ketampanan ada di bawah inner beauty dan attitude. Bahkan ada di bawah "kefokusan mata menatap", juga di bawah ini, itu, dan di bawah yang lainnya. Banyak yang lebih menarik darimu dibanding sekedar sebuah wujud fisik.

Ada lagi yang paling utama, masalah hati. Jadi, tak bisa kujawab jika kau bertanya kenapa aku mencintaimu. Bukan karena tanpa alasan, tapi karena saking banyaknya alasan. Alasan yang mustahil untuk kupaparkan, kudeskripsikan. Aku, otakku, hatiku, dan Tuhan yang tahu secara pasti.

Lalu, kau tak nyaman dengan perasaanku? Kau menyuruhku menjauh? Bisa, hanya secara manifes! Namun secara laten, tentunya aku masih mengamatimu dari jauh, juga dari dekat. Masih sering merasa cemburu ketika kau "sedikit" dekat dengan perempuan. Masih sering terkagum dengan alur berpikirmu yang sering kautulis di akun sosial mediamu. Juga masih sering lirik-lirik waktu ketemu kamu. Yah, kan saling sapa sudah kauharamkan! Aku tak mau dosa dalam hukum cinta. Sanksinya cukup berat: Kau akan semakin jauh!

Perasaan memang terlajur tertanam. Lalu mengakar dan mencengkeram bongkah imajinasi. Hasilnya, di mana pun, kapanpun, kamu selalu ada walaupun sebenarnya tak ada. Kau tahu? Aku sering mengobrol dengan bayanganmu. Bercerita banyak hal kepadamu. Semacam monolog, aku menjadi diriku, juga menjadi dirimu. Seperti orang gila ya? Mungkin lebih dari gila, dan belum ditemukan apa namanya. Sebuah fanatisme yang wajar dan manusiawi.

Mungkin kau malas membaca tulisanku. "Buat apa?", pikirmu. Itu hakmu, tapi menulis ini juga hakku. Jangan kausalahkan!! Karena Tuhan tak pernah menyalahkanku atas hal ini. Tidak pernah!!


Ditulis dengan cinta dan sedikit emosi,

Auliya

Jumat, 26 Oktober 2012

Sajak Hujan


Langit menangis, Cinta. Katanya cemburu. Bukan, bukan kepada terik, atau kepada mendung. Iya, langit cemburu kepadaku. Aku tahu semua dari hujan. Kau tahu apa katanya? Hujan bilang, karena aku lebih mencintaimu dibanding langit. Tentu itu bukan salahku. Menyimpan sayang padamu adalah hak semua makhluk, termasuk aku bukan?

Langit kecewa, Cinta. Ia menumpahkan air matanya ke bumi. Astaga, Ia meminta hujan memarahiku. Masih dengan perkara yang sama, karena aku lebih mencintaimu dibanding langit. Sudah, kubiarkan hujan mengomel hampir setengah jam. Aku tak berani mengatakan apapun padanya. Diam, dan mendengarkan hujan, adalah aku malam ini.

Langit meradang, Cinta. Ia meleparkan butiran-butiran air sekeras mungkin ke bumi. Aduh, tajamnya menghunjam kulitku. Bahkan sampai hatiku. Ingin berlindung? Sayang, kau tak ada di sini. Sebab langit hanya menurut kepadamu, selain kepada Tuhan.

Dan pada akhirnya, langit terus menerorku malalui hujan. Aku bingung, dan malam ini kucoba mengajukan abolisi padanya, namun ditolaknya mentah-mentah. Meminta grasi? Sama, tidak dikabulkannya.

Langit terlanjur marah. Tapi aku juga tidak bisa menghentikan laju hatiku yang kian hari semakin cepat berlari. Berlari berusaha menemukan ruang dalam hidupmu, suatu hari nanti. Aku tak bisa mengatakan apapun padanya.

Cinta, kau bisa membantuku? Setidaknya, untuk menasehati langit agar Ia tidak egois, berusaha menerima jika ada seseorang yang lebih mencintaimu dibandingnya. AKU!

Selasa, 28 Agustus 2012

Malaikat dalam Bingkai


Aku lelah hari ini. Seharian harus berkutat dengan urusan keuangan perusahaan. Mataku kering dan pedas berkat memelototi deretan angka yang harus kuhitung. Salah sedikit, mengulang lah sudah. Itulah pekerjaanku. Ketelitian dan kesabaranku harus kuforsir habis-habisan.

Kuhempaskan tubuh kurusku ke atas kasur empuk dalam kamarku. Tak ada gerakan berarti dari springbed berseprei ungu itu ketika kujatuhi. Ya, mungkin karena tubuhku yang terlalu enteng. Memang sejak dulu tubuhku tak bisa menggendut. Entahlah apa penyebabnya. Bawaan lahir? Atau keadaan yang membiasakanku. Saat itu juga, tak ayal pikiranku menembus awang-awang. Jauh, kira-kira lima belas tahun yang lalu.

Aku kecil, di perempatan lampu merah. Gadis sepuluh tahun yang kurus, hitam, baju lusuh. Jangan Tanya, rambut gimbal dan tubuhku tentu saja bau. Aku jarang mandi. Cuci muka pun bisa dihitung berapa kali. Tak jarang orang-orang di kota besar itu menutup hidung ketika berpapasan denganku. Ah, tak kuhiraukan perlakuan dan cibiran mereka. Yang terpenting obat untuk ibu bisa kubeli dan adik laki-lakiku tidak mengikatkan sarung lagi di perutnya.

Mengamen. Seharian bernyanyi dari satu mobil ke mobil lain. Sekedar untuk mengisi perut. Ibuku? Ia tak bisa apa-apa lagi. Kedua kakinya lumpuh karena peristiwa kecelakaan dua tahun lalu. Rumah kardus dengan lingkungan kumuh di kolong jembatan lah yang setia melindungi keluarga kami. Diapit gedung-gedung tinggi di kota metropolitan itu, membuatku merasa semakin “kecil”. Si kecil satu-satunya tulang punggung keluarga. Adikku masih terlampau kecil untuk kuajak mencari uang. Umurnya kira-kira lima tahun di bawahku.

Siang itu, seperti biasa. Kutelusuri jalanan dari rumah kardusku menuju perempatan tempatku mengamen. Terik sangat menusuk. Tapi, kulitku sudah kebal. Bukan masalah jika aku harus berlama-lama dihunjam sinar panas itu.

Traffic Light merah sedang menyala. Kudekati Toyota Rush hitam. Aku bernyanyi, dan pengemudi mobil itu pun memberiku selembar lima puluh ribuan. Aku kaget bukan kepalang. Banyak sekali pemuda tampan itu memberiku uang. Kutatapnya dengan wajah bingung. Agaknya ia mengerti maksudku. Lantas ia hanya mengangguk dan tersenyum. “Iya, semua buat kau,” demikian aku membaca raut itu. Memang, sejak dia melihatku pandangannya menjadi nanar. Diam-diam kuperhatikan roman mukanya. Aku pikir, pemuda tampan dalam mobil Rush itu menyimpan belas kasihan dengan keadaanku.

Sekarang, giliran lampu hijau menyala. Aku menyingkir ke trotoar. Menghitung isi kaleng bekas susu sambil menunggu merah menyala lagi. Tiba-tiba, ada yang duduk di sebelahku. Spontan aku menoleh, hendak tahu siapa gerangan itu. Astaga, pemuda tadi! Mau apa dia? Aroma tubuhnya wangi sekali. Betah aku duduk di dekatnya. Pakaiannya rapi, dengan kemeja berdasi tanpa jas. Ia pekerja kantoran, pikirku. Usianya kira-kira dua puluh limaan. Masih muda. Ia pun juga tak merasa jijik duduk di sampingku.

“Nama kau siapa?” tanyanya membuatku terperangah.

“Eh, aku Ulfa. Kakak ini siapa?” jawabku agak gugup.

“Aku Irfan. Sudah lama kau mengamen di sini?”

“Lumayan, Kak. Sejak aku berumur tujuh tahun,” kataku sambil mengusap peluh di kening. “Sudah sekitar tiga tahunan,” lanjutku.

Aku tidak lagi takut dengan orang yang belum aku kenal. Jalanan yang mengajariku hal ini. Lingkungannya yang keras membentuk mentalku untuk tidak memiliki rasa malu selagi aku tidak melakukan kesalahan.

“Berarti sekarang umurmu sepuluh tahun? Lantas, kau tidak sekolah?”

“Uang dari mana aku mau sekolah? Ibuku lumpuh, ayahku entah kemana. Bahkah, aku harus menanggung hidup ibu dan adikku yang masih kecil, Kak,” paparku. Aku mulai nyaman berbincang dengannya.

“Tapi kau juga masih terlalu kecil untuk hidup seperti ini. Kau tinggal di mana?” tanpa takut kotor, ia mengusap kepalaku.

“Ini takdir, Kak. Aku harus protes kepada siapa? Aku tinggal di rumah kardus, bawah jembatan tak jauh dari sini.”

“Kau dapat berapa dari hasil ngamenmu seharian?”

“Yah, tidak pasti. Kadang banyak, kadang sedikit. Lebih sedikit lagi ketika aku tertangkap satpol PP dalam razia gepeng, Kak.”

Pemuda itu mengusap mukanya. Sambil menghapus matanya yang berarir mungkin.

“Kau mau sekolah?” tanyanya kemudian.

“Tentu saja. Aku juga ingin berpenampilan cantik, rapi dan bekerja di tempat ber-AC seperti Kakak,” aku girang sekali. “Tapi, siapa yang akan membiayai?” aku menunduk dalam-dalam.

“Aku yang bertanya padamu, dan konsekuensinya aku dong yang harus bertanggung jawab atas pertanyaanku. Bukan itu saja, kau, ibu, dan adikmu boleh tinggal di rumah Kakak untuk menemani Kakak. Kakak tinggal sendiri. Orang tua Kakak sudah lama pergi,” nadanya sedikit merendah. “Kakak dulu besar di panti asuhan. Bisa sekolah tinggi juga berkat orang baik yang bersedia menanggung seluruh biayanya. Sejak itu, Kakak bertekad untuk tekun, berusaha membuktikan bahwa hidup tak hanya berpihak pada orang-orang kaya dan berkuasa,” suaranya semakin menghilang.

“Hah?  Kakak tidak bohong? Apa itu tidak merepotkan Kakak? Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apa sekarang,” seketika aku menangis. Suasana semakin haru ketika Kak Irfan memelukku. Untuk pertama kalinya, aku merasa nyaman di tengah teriknya kota.

Sejak kejadian itu, seminggu kemudian aku, ibu, dan adikku benar-benar tinggal di rumah Kak Irfan. Awalnya ibuku tak mau menerima kebaikan Kak Irfan itu. Namun, akhirnya ibu meleleh setelah mendengar penjelasan panjang dari Kak Irfan sendiri. Dari penjelasan itu, aku baru tahu ternyata Kak Irfan adalah direktur muda. Pantas saja, ia bersedia membiayai hidup keluargaku.

Kak Irfan sungguh menganggap kami sebagai keluarga. Ia menyekolahkan aku dan adikku. Di waktu luang kerjanya akhir minggu, tak jarang ia mengajakku dan adikku pergi jalan-jalan. Kemana saja yang kami mau. Kak Irfan telah mengangkat derajat keluargaku. Ia mambebaskan kami dari takdir hidup yang sulit.

Hingga aku beranjak dewasa. Usiaku dua puluh tahun, Kak Irfan tiga puluh lima tahun. Kuliahku sudah selesai, dan aku juga bekerja di kantor temapat Kak Irfan bekerja. Itu juga karena berkat ketekunan dan prestasiku. Bukan karena nepotisme yang sedang menjadi trending topic media saat ini.

 Seiring kebersamaanku dengan Kak Irfan, layaknya remaja lain, aku menaruh rasa lebih padanya atas dasar kebaikan, dan sifat-sifatnya yang membuatku kagum. Sesungguhnya, aku selalu mencoba membuang jauh-jauh rasa itu. Ternyata, berperang dengan perasaan jauh menguras tenaga daripada bertarung secara fisik.

Kak Irfan pun belum menikah saat itu. Entahlah apa yang membuatnya menunda momen sakral sekali seumur hidup tersebut. Sayang, aku tak pernah kuasa untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku menyadari itu tak pantas kulakukan. Mencintai malaikatku sendiri. Macam tak tahu hutang budi saja jika demikian.

Hingga akhirnya, Kak Irfan memutuskan untuk tinggal di London, mengejar mimpinya yang lain. Termasuk bertemu dengan pendamping hidupnya. Aku masih sering berhubungan dengannya melalui telepon, sosial media, dan SMS.

Aku menatap dinding. Mengamati foto keluarga kecil Kak Irfan yang kudapat dari kiriman surat elektroniknya setahun lalu. Sekarang umurku dua puluh lima, dan aku belum juga mengakhiri masa lajangku. Pacar? Tentu saja aku punya. Mungkin sebentar lagi ia akan melamarku. Aku bahagia dengan hidupku. Yang paling membuatku tak percaya adalah aku mampu mengalahkan hatiku. Untuk tidak mencintai malaikat hidupku sendiri. Biar, malaikat itu kini terbingkai indah di dinding itu. Bersama pendamping hidupnya dan malaikat kecilnya.

Jumat, 20 Juli 2012

Astagaa.. Aku Tenggelam!

Barusan aku mengintip kamarmu. Kau sedang tertidur, pulas sekali. Pelan-pelan kubuka pintu lebih lebar sedikit. Lalu kutelisipkan tubuhku dengan sangat hati-hati agar tak tercipta suara-suara yang membuatmu terbangun. Aku berjingkat mendekat, lantas duduk di pinggiran ranjang tidurmu. Aku kangen kau malam ini.

Aku menatapmu lamat-lamat. Roman mukamu apalagi. Kutelusuri dengan detail. Aku melihat banyak jawaban di sana. Tapi, jawaban yang sulit kumengerti. Jawaban yang entahlah. Harusnya kau katakan itu dengan gamblang.

Baiklah, kurasa lebih baik aku beranjak dari tempat ini. Sebelum aku semakin terlilit jawaban-jawaban yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, mungkin justru semakin banyak dan membuatku semakin pusing. Aku hendak berdiri, tiba-tiba, dengan sigap sepuluh jemarimu menahan lenganku. Aku kaget! Kutatap lagi romanmu yang masih terpejam, berharap menemukan jawaban, mengapa kau menarik lenganku. Seakan kau tak ingin aku membiarkanmu sendirian di kamar pengap ini.

Beberapa detik, aku masih tak mengerti apa maumu. Kau tetap dalam lelapmu. Hendak kulepas cengkeraman jarimu, namun terlalu kuat kau menggenggam lenganku. Lagian, sentuhanmu kurasa nyaman. Iya, sepertinya diamku lebih baik kali ini.

Aku mulai tersenyum sendiri melihatmu. Lebih tepatnya karena memang aku mengagumimu. Terus saja kau tahan aku di sini. Sampai kau bangun esok pagi, biar senyumku yang pertama kali menyambutmu. Kubayangkan gelagatmu ketika menyadari siapa yang menemanimu semalaman. Kau pasti lucu sekali, lantas melempariku dengan bantal lalu kubalas kau dengan lemparan guling. Jadilah perang ranjang sambil cengengesan usil.

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Eh, ada apa ini? Sungguh aku tenggelam tiba-tiba! Tubuhku terhentak keras ke depan. Seperti ada yang menarikku. Sepersekian detik aku tak sadar. Ketika kubuka mataku, aku sudah terbenam. Tempat apa ini? Sempit, gelap, sulit untuk bernapas di dalamnya. Sedikit kubenahi posisi kepalaku hingga aku bisa menjangkau suasana luar. 

Astagaaaa... ternyata. Aku hanya tersenyum melihat kenyataan ini. Kutenggelamkan lagi kepalaku. Namun, kali ini aku memposisikannya lebih nyaman. Tidak lagi pengap dan gelap. Yang ada malah sempit yang nyaman. Selamanya di sini pun aku betah. Iya, tenggelam di sini selamanya.

Ketika malam semakin matang, lenganmu semakin erat menenggelamkanku. Dasar kau! Sering-sering lah kau melindur seperti ini. Dan aku akan rutin datang ke sini setiap malam. :)

Jumat, 04 Mei 2012

Aku Sayang Bunda, Sayang Ayah


Yudha membuka album itu. Remaja 17 tahun itu sedikit risih dengan kotoran yang menempel di permukaan album. Banyak debu, kotor,  usang. Maklum, sudah bertahun-tahun album itu tertumpuk di gudang. Terdapat foto sebuah keluarga kecil dengan bebagai pose di dalamnya. Terdiri dari ibu muda. Ibu muda yang cantik, melebarkan senyumnya. Terlihat barisan giginya yang rapi. Di tengah, ada bayi kecil satu tahunan. Mata lebar. Pipi tembam dengan lesung manis. Bahagia sekali keluarga itu.

Yudha membuka pelan, mengamati lembar demi lembar album itu. Semakin ke halaman belakang, dahinya semakin mengernyit. Masalahnya, ia tidak mengenal satu sosok lain selain ibunya dan bayi kecil dalam album itu. Ya, sosok yang asing menurutnya. Laki-laki tinggi berkulit sawo matang yang duduk di sampingnya dalam foto itu. Matanya terang, kebapakan. Raut mukanya tampan, nyaris mirip dengan bayi kecil di sampingnya.

“Yudha, sudah ketemu, nak sketsa gambarmu?” bunda membuka pintu gudang, mencari putranya.
“Eh, belum, Bun. Susah nyarinya!” tak menoleh, masih tetap mengamati takzim gambar-gambar dalam album. “Bun, ini bunda, kan? Dan ini aku. Lantas, siapa laki-laki ini? Ayah?” masih tetap tak mengubah arah pandangnya dari album.

Bundanya diam. Sama sekali tidak ada jawaban. Sepersekian detik, tetap tak ada suara. Yudha menoleh, bundanya sudah teduduk di atas kursi bekas yang ikut memenuhi gudang itu. Terpaku, bulir air mata tak kuasa mengintip dan jatuh dari mata sendu bunda.

Tentu Yudha kebingungan. Ia takut ada yang salah dengan perkataannya tadi. Memang, Yudha selalu takut menyakiti hati bundanya. Ia terlalu menyayangi perempuan yang hidup bersamanya 17 tahun ini. Disentuhnya lutut bunda, menunduk, berlutut, isyarat permintaan maaf.

“Iya, dia  Ayahmu,” kata bunda tiba-tiba.
“Maaf, Bunda. Kenapa selama ini Bunda tak pernah mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang ayah? Bunda selalu bilang ayah baik-baik saja di suatu tempat. Tapi, Bunda tak pernah mau mengatakan tempat itu di mana. Seakan Bunda merahasiakan siapa ayah dariku,” Hening. “Aku ini anak ayah, Bunda,” nyaris berbisik. Yudha mendongak, menatap mata bundanya.
“Ayah sudah siap?”
“Siap tidak siap harus siap, Bun. Demi anak kita,” ayah tersenyum menenangkan kecemasan bunda. Di elusnya pelan perut bunda yang buncit besar.
“Sudahlah, Yah. Aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Aku memang tak pernah bisa membahagiakanmu.”
“Sssttt... Kau selalu membuatku bahagia. Kau pikir selama ini aku menikahimu karena apa? Tentu, karena tak akan ada wanita lain yang bisa kucintai sepertimu,” menyolek pipi bunda.
Bunda tersenyum. Betapa ia mencintai laki-laki di hadapannya itu.
“Tapi bagaimana dengan Ayah?”
“bagaiman apanya? Aku bukan pengecut. Aku masih bisa hidup dengan satu ginjal ini, sayang.”

Dan benar. Dua hari kemudian tubuh terbaring ayah sudah digelendeng penuh belalai menuju ruang operasi. Disusul sesosok tua yang mungkin sekarat. Sama halnya dengan ayah. Tubuhnya penuh belalai medis. Sesekali ia kejang-kejang, seakan tak sabar menunggu ginjal baru memperpanjang usianya.
“Ketika kau berumur satu tahun, ayahmu tega meninggalkan kita. Terlalu cepat Tuhan mengambilnya,” tangis bunda memecah sepinya gudang.
“Ka-re-na a-pa, Bun?” tanya Yudha hati-hati.
“Karena kebandelan ayahmu sendiri. Waktu itu ayah bohong sama bunda. Ayah bilang kalau kedua ginjalnya berfungsi baik. Tak masalah jika salah satu harus didonorkan pada kakek itu yang keluarganya berjanji membiayai semua operasi kelahiranmu. Bukan operasi persalinan biasa. Rahim bunda bermasalah. Dokter sudah bilang atas resiko kehamilan itu sebelumnya. Tapi bunda tak ingin mengecewakan ayah. Bunda memaksa mengandung. Bunda ingin menjadi wanita sempurna, Yudha. Yang bisa melahirkan kau.”
Yudha terdiam. Sesekali mengusap ujung matanya yang berair. Bagaimana tidak? Cerita bunda benar-benar menohok hatinya. Kenyataan ini seperti petir tanpa hujan yang menyambar pohon di siang bolong.
“Ternyata setelah ayahmu pergi, baru semua terbongkar. Dokter bilang memang ginjal yang tertinggal di tubuh ayah sudah rusak. Bahkan, sisa waktu ayah yang setahun itu termasuk keajaiban. Seketika bunda marah. Bunda berteriak. Ingin rasanya mengganti nyawa ayah dengan nyawa dokter itu. Entahlah, kala itu dokter lah yang paling bersalah menurut bunda!” suara bunda meninggi.
“Jadi, aku hidup dengan nyawa ayah, Bun?”
“Tidak, sayang. Kau tak tahu apa-apa tentang ini. Kau hanya korban. Ini terjadi atas keegoisan ayah dan bundamu. Itulah kenapa bunda merahasiakan semua ini. Bunda tak ingin kau merasakan apa yang bunda rasakan. Sakit, rindu dengan ayahmu, ingin berteriak, apapun itu, yang jelas sangat tidak enak. Maafkan kami, Nak,” anak dan ibu itu saling memeluk. Menangis bersama.
“Aku sayang sama bunda, sama ayah. Aku yakin, sekarang kita bertiga tak bersama di sini, Bunda. Tapi kita akan berkumpul nanti, di waktu yang tepat dan tempat yang lebih baik.”
Bunda mengangguk mengerti. Tersenyum. Betapa ia bangga dengan putranya. Berjiwa besar, mengerti apa arti sebuah pengorbanan.