Perpisahan. Sebuah kata benda yang banyak disumpahi orang-orang. Termasuk aku. Yang begitu membenci kemutlakan Tuhan yang satu ini. Iya, aku benci.
Perpisahan. Pernah membuatku perlahan berbisik kepada Tuhan selepas solat dhuhur di belakangmu. Untuk lebih lama memberhentikan matahari, meski hanya beberapa detik. Doa ketidakmungkinan yang dilontarkan dengan ketidakwarasan. Karena ketidaksanggupanku menerima kenyataan mengapa pertemuan kita terasa begitu singkat. Ah!
Perpisahan. Pernah membuatku diam-diam berdoa di boncenganmu. Meminta kepada Dzat Yang Maha Berhak untuk mengulur-ulur waktu. Memohon kepadaNya agar ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Hingga akhirnya sampai pada titik pertemuan tanpa perpisahan apapun selain permintaan pulang dariNya.
Perpisahan. Pernah membuatku menyuruhmu lekas-lekas pergi dari hadapanku. Karena sejenak logikaku tidak siap dengan perpisahan yang sebentar lagi mengakhiri kebersamaan kita. Aku malu jika kau harus melihatku menangis. Aku tidak ingin kerapuhanku terbongkar olehmu. Aku sungguh, tidak sanggup menahan apapun yang ingin tumpah saat itu. Maka, aku menyuruhmu segera meninggalkanku sebelum pertahananku runtuh untuk tidak menyesali apapun.
Perpisahan. Pernah membuatku menangis sejadi-jadinya di stasiun. Bahkan, dalam gerbong kereta api yang membawa tubuhku semakin menjauhimu kala itu. Sepanjang ular besi melaju, menyelesaikan jarak tempuhnya, selama itu aku tak berhasil memberhentikan air mataku.
Perpisahan. Sejak saat itu, hingga saat ini, selalu, menyemai tunas-tunas rindu yang makin hari makin bertumbuh. Semakin merimbun ketika perpisahan yang tak kunjung disambut lagi dengan pertemuan.
Seseorang yang pernah menemaniku melepas senja, aku teramat kangen. Harus bagaimana aku? Bahkan pengalihan apapun tak sanggup meredakan gemuruh tak tahu diri ini. Tidak ada yang lain, yang bisa kulakukan. Selain menangis, merengek sebuah pertemuan lewat doa, juga meruntuki perpisahan, dan memakinya habis-habisan.
Sabtu, 11 Juni 2016
Senin, 07 Desember 2015
Maka, Kumohon Datanglah..
Aku rindu hujan...
Tanah dan atap-atap rumah yang basah kecokelatan. Aroma yang sempurna untuk mengingat. Dingin yang pas untuk memeluk lutut. Bertopang dagu, memejamkan mata menatap yang tak mampu dilihat dengan mata. Tentu saja akan datang yang lebih ramai dibandingkan suara gemercik air dari langit.
Aku rindu hujan...
Suara dan kilatan petir yang keras. Menyentak apapun yang sebelumnya tenang. Lebih baik mengurung diri di balik selimut, menutup telinga. Lalu akan terdengar yang lebih berisik dibandingkan halilintar yang bersahutan kala badai.
Aku rindu kau..
Semakin sempurna rinduku karena malam dan hujan. Sendirian, aku kau buat ramai gaduh. Kesepian, aku kau buat berdesakan di antara kenangan dan harapan. Begitulah jika aku tanpa kau. Aku butuh nyaman, aku butuh hangat. Maka, kumohon datanglah. Peluk aku di antara kedua lenganmu dan tenangkan aku dengan satu dua kecupan bibirmu di keningku..
Aku rindu kau..
Semakin sempurna rinduku karena malam dan hujan. Sendirian, aku kau buat ramai gaduh. Kesepian, aku kau buat berdesakan di antara kenangan dan harapan. Begitulah jika aku tanpa kau. Aku butuh nyaman, aku butuh hangat. Maka, kumohon datanglah. Peluk aku di antara kedua lenganmu dan tenangkan aku dengan satu dua kecupan bibirmu di keningku..
Selasa, 24 November 2015
Apa Namanya?
Apa namanya? Ketika kamu benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan seseorang. Ketika semua yang kamu lihat, kamu sentuh, dan kamu rasakan menjelma menjadi dia. Entah itu hanya halusinasimu, atau memang dia benar-benar sudah menjalari seluruh indera dalam tubuhmu.
Apa namanya? Ketika kamu benar-benar mencemaskan seseorang. Ketika kamu sangat takut hal buruk terjadi padanya. Ketika kamu selalu mengkhawatirkan keadaannya. Ketika kamu begitu ingin selalu di dekatnya, menghalau segala luka dan duka yang hendak menyambanginya sejauh yang kamu bisa. Bahkan, jika tubuh dan rasamu pun harus ikut terluka, mungkin bagimu itu tidak seberapa jika dibanding dia yang harus menanggung duka.
Apa namanya? Ketika yang ada dibenakmu adalah tentang kebahagiaan seseorang. Melihat tawa dan senyumnya menjadi hal yang begitu menenangkan. Ketika kamu sangat takut membuatnya merasa tidak nyaman.
Dan, apa namanya? Ketika kamu benar-benar takut akan kepergian seseorang dari hidupmu. Seperti ada yang kamu sesali ketika dia pergi. Bukan, bukan menyesali apapun tentang dia. Melainkan menyesali dirimu sendiri, lalu kamu berpikir ulang apakah ada yang salah dari tindakanmu sehinga dia begitu saja menjauh?
Sayangnya, aku juga tidak mengerti mengapa demikian. Aku juga tidak tahu semua itu apa namanya. Karena, perasaan yang lebih dari itu tengah menimpaku saat ini.
Dia, adalah penting dalam keseharianku. Kabarnya menjadi salah satu kewajiban untuk kucari tahu. Apakah dia sehat? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia bahagia? Ke mana saja dia hari ini? Apa saja yang dia lakukan? Dan, bersama siapa kah dia? Sialnya, aku tidak bisa menanyakan semua itu kepadanya. Aku harus cari tahu dengan caraku sendiri. Meski pada akhirnya, tak jarang aku gagal mendapatkan apa yang ingin ku ketahui.
Entahlah, itu apa namanya. Yang jelas, selalu memberi yang terbaik untuknya adalah deretan keinginan yang selalu kuusahakan. Apa pun, asalkan dia bahagia.
Apa namanya?
Jumat, 12 Juni 2015
Sudah, Aku Sudah Mengalah..
Mengalah kepada waktu. Itukah yang kau mau untuk kulakukan?
Sepatah kata yang tak lagi punya daya. Kau tanya seberapa lama lagi aku akan begini? Tak Sedikitpun beranjak dari tempat kita terakhir bertemu. Ini semua aku lakukan karena aku tak tahu lagi harus ke mana.
Kau tahu? Aku tidak pergi sejak itu, aku sekarang tersesat. Atau terperangkap lebih tepatnya. Pada sebuah ruang yang aku sendiri tak tahu apa warnanya, apa rasanya.
Sudah, sudah lama aku mengalah kepada waktu. Aku membiarkan ia membawa seluruh dukaku, sukaku, bahkan segalanya kulepas pergi bersamanya. Anehnya, rindu itu tak pernah habis meski waktu selama ini telah mengikis. Lagi-lagi, aku mengalah dan menanggung semua tanpa bantuan.
Apa lagi yang masih kau ragukan? Tak bisakah kau sedikit berbaik hati untuk menolongku? Keluarkan aku dari ruangan ini. Agar waktu tak semena-mena menghajarku, mengaduk-aduk, memaju-mundurkan kenangan-kenangan. Setidaknya, tunjukkan di mana pintunya, dan aku akan berjalan keluar sendiri.
Sudah, sudah lama aku mengalah kepada waktu. Aku membiarkan ia membawa seluruh dukaku, sukaku, bahkan segalanya kulepas pergi bersamanya. Anehnya, rindu itu tak pernah habis meski waktu selama ini telah mengikis. Lagi-lagi, aku mengalah dan menanggung semua tanpa bantuan.
Apa lagi yang masih kau ragukan? Tak bisakah kau sedikit berbaik hati untuk menolongku? Keluarkan aku dari ruangan ini. Agar waktu tak semena-mena menghajarku, mengaduk-aduk, memaju-mundurkan kenangan-kenangan. Setidaknya, tunjukkan di mana pintunya, dan aku akan berjalan keluar sendiri.
Minggu, 26 April 2015
Entah Kapan, Sebelum Aku Menyerah...
*Backsong: I Surrender - Celine Dion
I know I can't survive
Another night away from you
You're the reason I go on
And now I need to live the truth
Right now, there's no better time
From this fear I will break free
And I'll live again with love
And no they can't take that away from me
And they will see...
I'd surrender everything
To feel the chance to live again
I reach to you
I know you can feel it too
We'd make it through
A thousand dreams I still believe
I'd make you give them all to me
I'd hold you in my arms and never let go
I surrender
Penggalan lirik itu mungkin mengawali pebicaraanku malam ini. Pembicaraanku dengan diriku sendiri. Aku kepada aku. Bukan kepada siapapun. Sayangnya, tentu saja perkara aku adalah tentang dia. Dia yang sejauh ini masih tetap kokoh di tempatnya. Dia yang selama ini masih memberi setitik labirin untuk hatiku. Sayangnya lagi, ia tidak memberikan hal yang sama kepada logikaku. Aku sadar, aku bodoh karena dia, dan aku bodoh untuk dia.
Aku bahkan tak pernah tahu kapan semua ini dimulai. Kapan dia mulai membangun kerajaannya. Aku juga tidak pernah memahami ke mana aliran itu menjatuhkan dirinya. Yang aku tahu, semuanya terlanjur basah. Dan aku belum melihat pintu terakhir dari semua ini. Masih lorong yang gelap, bahkan bercabang yang aku sulit untuk memilih jalan mana yang benar.
Entahlah, ketika mendengar tentang dia, tubuh serasa tidak berotot. Lemas. Lemas yang kunikmati. Aku tak berdaya, tapi aku menikmatinya. Aku tak bisa apa-apa, tapi aku enggan beranjak. Aku kalah, karena memang telak, aku selalu memenangkan dia. Aku bodoh, lagi-lagi.
Aku tahu, aku bukan yang terbaik untuk merawat apa yang dia punya. Tapi, aku punya cukup kesabaran untuk mendampingi perjalanannya. Aku yakin, dia juga merasakan hal itu. Meski pada akhirnya aku harus tetap melihat orang lain merawat segalanya yang dia punya, setidaknya aku pernah berusaha. Entah kapan, sebelum aku menyerah........
Senin, 16 Februari 2015
Sebutir Rasa
*Backsong: Dealova by
Once
Sebutir
rasa yang sejak lama telah tersemai dengan sendirinya. Butir itu menumbuhkan
akar di sekujur tubuhnya. Mencengkeram bongkahan hati, kemudian berkembang di
sana. Sungguh aneh, ketika tumbuhnya terlalu pesat, tanpa pupuk, tanpa ada yang
mengairi. Bahkan, sekarang sebutir itu telah menjadi pohon yang kokoh, berbuah
sampai jatuh, menyemai butir baru. Kini, entah sudah berapa ratus, ribu, bahkan
juta pohon kokoh yang terus berkembang di taman hati.
Tentu,
semua orang tau bahwa tulisanku tak akan jauh dari perihal kamu. Tak terkecuali
kali ini. Pohon-pohon itu makin menjadi-jadi. Pohon-pohon itu terkadang begitu
munafik, Sayang. Ada kalanya ia berbunga, wangi, indah. Ada kalanya bunga itu
gugur tiba-tiba, lalu tumbuh benalu yang begitu memberatkan tangkai-tangkainya.
Pergantiannya tak tentu. Begitu merepotkan sang pemilik taman hati. Tentu saja,
sang pemilik berusaha keras mengurus taman itu agar tetap indah, setidaknya
benalu tidak merundukkan dahan-dahan pohonnya. Dengan cara apapun, dengan jalan
manapun, tak segan ditempuh.
Taman
hati itu layaknya sebuah harapan, Sayang. Terus diusahakan hingga suatu hari
nanti taman itu bisa subur dengan pohon-pohon yang berbunga indah, banyak dihinggapi
serangga pemburu nektar. Dan taman-taman di negeri-negeri dongeng akan
benar-benar nyata, dengan kastil tinggi lebar di ujungnya, berpenghuni seorang
raja dan ratu.
Siapa
yang mau harapan itu dicacah oleh luka? Tapi, jika pada akhirnya harus
demikian, tak usah kau tanya seberapa sanggup pemilik taman berlapang dada. Karena
sesungguhnya selapang-lapangnya hati seseorang adalah ketika ia ikhlas
memberikan waktunya untuk merawat sesuatu yang siapa tau nantinya justru akan
mengoyak jiwanya dan merusak tubuhnya.
Kamis, 24 Juli 2014
Rindu, Teramat Rindu, Teramat Sangat Rindu
Subuh ini, rindu masih
enggan beranjak sesenti pun dari otak, hati, dan segala organ sumber perasaan.
Iya, masih tentang rindu. Jangan bosan. Karena memang rindu adalah ungkapan
terbaik dari sebuah perasaan cinta. Kau akan rindu jika kau tulus mencintai.
Kau akan rindu jika kau ikhlas menyayangi. Dan kau akan rindu jika kau apa
adanya menyukai.
Semudah itu memang
untuk mengenali sebuah rasa. Jika dia merindukanmu, maka dia mencintaimu.
Simpel. Tapi, sayangnya tak ada barometer untuk mengukur seberapa besar kadar
sebuah rindu. Hanya sebatas “rindu”, “teramat rindu”, atau “teramat sangat
rindu”. Oh, ternyata tidak sesimpel itu. Rindu tetap saja rumit.
Subuh ini, ada geliat
yang mendesak hatiku untuk lebih dalam memikirkanmu. Muncul begitu saja,
memang. Baiklah, aku tak bisa mengelak. Lagi-lagi aku harus mengikuti geliat
itu. Memikirkanmu lebih dalam, terhipnotis, lantas aku mudah tumbang. Iya,
siapa lagi? Geliat itu namanya rindu. Lalu, apakah ini rindu, teramat rindu,
atau teramat sangat rindu? Hanya “rindu” barangkali.
Ketika kita dekat,
rindu itu seakan hilang, lebur lenyap. Ketika kita jauh, membuncah! Hati dan
pikiran ini dengan cepat terasa penuh, sesak. Tidak tahu oleh apa, yang jelas
penyembuhnya hanya satu: Kau! Ini kah yang namanya “teramat rindu”?
Entahlah, aku sudah
terlalu mudah untuk merasakan sebuah rindu. Sedikit-sedikit rindu,
sebentar-sebentar rindu, lepas bertemu rindu, lepas telepon rindu.
Intensitasnya begitu masif. Oh, aku paham. Aku “teramat sangat rindu”.
Tiga-tiganya aku punya.
Sedalam itu. Lalu, bagian mana lagi yang kau ragukan dariku?
Rabu, 16 Juli 2014
Perihal Kamu
Pertimbangan apa lagi
yang harus kujadikan alasan untuk tetap mempertahankanmu? Ketika semua yang
kuharapkan tak lagi menjadi keinginanmu. Antara ujung runcing jarum dengan
lubang tumpul pengait benang sampai kapanpun akan sulit bertemu. Antara langit dan
laut yang sampai kapanpun tak akan bertukar tempat. Hanya saling berkaca, mustahil
berpapasan atau bahkan membias jadi satu. Mungkin senja. Tapi bukankah senja
akan selamanya menjadi pembohong? Terlihat indah, tapi sejatinya ia tak ada.
Kosong. Mempertemukan tapi tidak mempersatukan.
Pertimbangan apa lagi
yang harus kuukur agar aku tetap mempertahankanmu? Sedangkan pelangi yang
hendak kamu raih telah kamu dapatkan satu per satu warnanya. Dan aku? Masih
terpaku di tanah. Bisu dengan semua yang terjadi, lelap dalam mimpi buruk yang
tak kunjung berakhir.
Terkadang, aku mengurai
sendiri silogisme tentang dua hal yang dekat. Kubolak-balik berulang-ulang,
kupaksa harus berhubungan, mencari jalan agar bertemu satu sama lain, tapi
sebenarnya keduanya tak saling terkait. Aku dan kamu. Jadi, lagi-lagi silogisme
itu palsu.
Apa yang bisa aku
lakukan lagi? Selain membatasi diriku sendiri untuk terus berkutat dengan
apapun tentang kamu. Aku bukan lelah. Aku hanya tidak mau memaksakan yang
sampai kapanpun tidak akan pernah terjadi.
Kamu tahu hakikat
cinta? Perasaan suka yang kemudian mendatangkan rindu. Aku selalu memaknainya
dengan sederhana. Sesederhana mawar yang sampai kapanpun akan menjaga warnanya
agar tetap merah. Sesederhana luka yang pasti akan mengering meskipun entah
kapan dan berapa lama. Sederhana, kesulitan yang sederhana.
Kamu tahu perihal
cinta, rindu, dua ujung jarum, langit, laut, senja, pelangi, mawar, dan tanah
yang kusebut barusan? Adalah sebuah kesempurnaan yang tidak sempurna yang dapat
kukatakan untuk menggambarkan kamu. Setidaksempurna apapun kamu, adalah yang
paling sempurna dari siapapun hati yang pernah kukenal. Terima kasih untuk
selama ini. Terima kasih kamu selalu berhasil membuatku bangga. Dan terima
kasih kamu tak pernah gagal untuk membuatku selalu bersyukur.
Maaf, jika selama ini
aku terlalu erat menggenggam pergelanganmu. Sekarang, aku lepas. Terbanglah.
Sampai kamu berhasil melengkapi warna pelangimu. Tapi, ada satu hal yang harus
kamu cetak tebal dalam pikiranmu. Ketika suatu saat kamu memutuskan untuk
kembali ke tempat ini, maka kamu masih akan menemukanku. Di hatimu, dan di
hatiku.
Minggu, 01 Juni 2014
Langit dan Laut
Tentang sebuah
kebohongan, dari semburat jingga dan senja
Kepada langit,
juga kepada laut
Tanyakan pada
langit, apakah ia pernah bertemu dengan laut?
“tidak, langit
hanya selalu bercermin pada indah air kacanya”, camar mewakili langit
Demikian pula
pada laut, apakah ia pernah berjumpa dengan langit?
“tidak, laut
hanya mampu melihat kemegahannya dari jauh”, karang menyulihi laut
Lalu, ketika kau
di pinggir pantai petang hari, apa yang kau lihat?
Langit, laut,
dan setengah matahari tengah bersenggama.
Akrab, dekat,
tapi sejatinya mereka jauh, tidak pada satu tempat.
Apa lagi yang
bisa kau percaya dari senja?
Bahkan keindahan
merah keunguannya palsu.
Ia hanya
berpura-pura mempertemukan dua hal yang jauh,
Tak ada
seujungpun yang akan mempersamakan.
Apa lagi yang
bisa kau andalkan dari senja?
Bahkan, ketika
pasir melegam, matahari nyaris karam, ia pergi.
Menghitamkan
perahu-perahu nelayan, menyisakan debur yang sepi
Kembali
meninggalkan langit dan laut sendirian dalam ketidakbersamaan
Malah terkadang
menjejakkan mendung, membuat langit menangis
Dan laut
terhunjam buliran hujan
Berkat senja,
kini langit dan laut saling tersakiti
Auliya Ulfa
Minggu, 22 Desember 2013
Ada Seseorang...
Ada seseorang dalam hidupku, ketika ia pergi akan membawa sepotong hatiku..
Ada seseorang yang tanpa sadar melukaiku, tapi aku tak pernah berniat membalasnya, selalu ikhlas menerimanya..
Ada seseorang yang ketika ia bahagia, aku akan ikut bahagia. Meskipun bahagianya bukan denganku..
Ada seseorang yang ketika ia terluka, aku akan ikut terluka. Dan di saat apapun, aku akan selalu ada untuknya.
Hakikat perasaan adalah ketika semua masih bisa dirasakan. Selapang-lapangnya hati adalah ketika ia ikhlas menerima apapun yang tidak diharapkan. Ketahuilah, asumsi "Cinta harus memiliki" sejatinya kudu disilang besar-besar dalam pikiran.
Tentang mencintai dan menunggu, iya, hanya itu pekerjaan perempuan. Boleh jadi, memang kodratnya begitu. Resiko? Cukup berat. Ketika ujungnya benangnya tidak ketemu, maka benang itu sendiri yang akan menyayat perasaannya..
Sabtu, 14 Desember 2013
Semua Abu-Abu
Ketika dua pasang mata tak sengaja saling bertatap, ada yang berbeda. Aku begitu kaku. Matamu merasuk begitu dalam hingga ulu. Ada ketenangan. Tapi aku begitu sungkan. Perasaanku amat sangat rentan terhadapmu. Apa ini?
Seandainya boleh, aku ingin bercerita. Namun, entah tentang apa. Aku bingung. Banyak yang bercecer dalam pikiranku. Kepingan-kepinganmu yang begitu sulit kususun. Bagiku, kau misterius. Tentangmu, begitu sulit kupahami. Bahkan, yang kasat pun sulit kulihat. Gerikmu, bahasa tubuhmu, entahlah! Kau menenggelamkanku dalam kesunyian yang bimbang.
Sedingin malam ini. Membeku. Nalarku tak menemui apa yang angan-anganku cari. Ketika telah kukumpulkan yang berantakan, tetap tak kutemukan kamu. Lebih dari bisu, dalam tindakanmu yang ambigu. Semua justru semakin kaubuat ragu.
Terlalu tinggikah jika aku ingin masuk ke dalam setiap doamu? Bahkan, pintunya belum juga kujumpai. Masih terkurung dalam senyap yang pekat. Sekelilingku samar-samar. Keputusan begitu sulit dijatuhkan. Tentang tetap berkutat dengan kisi-kisimu, atau cukup?
Dalam tenangmu, dalam kelembutanmu, dan dalam kepedulianmu. Aku kaubuat tak berkutik. Aku kaubuat lemas di langit. Semua abu-abu. Iya, aku tahu, semua terserah waktu..
Jumat, 15 November 2013
Rindu dan Pengabaian
Seseorang merindumu sekian musim
Kesakitan bukan lagi rasa yang asing
bukan lagi dentingan musik yang mengiris
kesakitan adalah kawan
kawan yang setia mengantarnya ke pintu kenyamanan
Bahkan, ketika malam menidurkannya dalam senyap luka
ia masih bisa nyenyak
Sebab, rindu dan pengabaian yang mempertemukannya dengan segala bentuk mata pisau
mata pisau yang ujungnya berkilat, siap menyayat
Sebab, rindu dan pengabaian memaksa hatinya untuk membaja
hingga suatu saat mata-mata pisau itu bengkok
kelelahan dan menyerah!
Hatinya keras, beku, tak mau tahu tentang apapun
kecuali biang rindu yang diembannya
Madiun, 15 November 2013
Sabtu, 02 November 2013
Sunset Bersama Rosie, Tere Liye
Sebuah novel karya Tere Liye yang membuat saya mengerti banyak hal. Yang telah menumbuhkan pemahaman-pemahaman baru dalam hidup saya.
Tentang definisi cinta, secara paten belum ada yang mampu memaparkan apa itu cinta. Bukan berarti ia tak terdefinisikan. Cinta punya banyak perspektif. Setiap orang berhak, boleh mendefinisikan dan memahami cinta menurut pikiran dan perasaannya masing-masing. Tak boleh disalahkan, dan tak ada yang berhak membenarkan, kecuali pikiran dan perasaannya sendiri.
"Aku tidak tahu apa perasaan itu, Ros. Yang aku tahu aku selalu merasa senang bersamamu. Merasa tenteram dari semua galau. Merasa damai dari semua senyap. Aku merasa kau membuatku setiap hari lebih baik. Menumbuhkan semangat, memberikan energi." -Uncle, Om, Paman Tegar-
(Tere Liye, Sunset Bersama Rosie, halaman 32)
Ada kalanya cinta dapat membuat seseorang melupakan dirinya sendiri. Yang dia ingat, yang ada dipikirannya hanyalah orang yang ia cintai.
Kata orang bijak, kita tidak pernah merasa lapar utuk dua hal. Satu, karena jatuh cita. Dua, karena kesedihan yang mendalam. Aku pernah merasakan dua hal itu sekaligus. Cinta dan rasa sedih. Jadi bayangkanlah betapa tidak pentingnya urusan makan.
(Tere Liye, Sunset Bersama Rosie, halaman 66)
Sakit adalah ketika cinta itu berat sebelah. Ketika dua hati tidak saling, tidak sama-sama berjuang. Bayangkan! Betapa berat beban satu hati yang harus berusaha sendiri, berjalan sendiri, sakit sendiri. Sedangkan hati satunya hanya diam, bahkan tidak respek.
"Padahal kau tau, semua itu sungguh menyakitkan, karena aku tidak pernah tahu apakah kau pernah sekalipun mencintaiku atau tidak" -Sekar-
(Tere Liye, Sunset Bersama Rosie, halaman 206)
Tetapi, ketika cinta sudah mengeluarkan segala energi positifnya, justru ia akan membangun seseorang untuk menjadi lebih baik. Memberi pemahaman lurus kepada setiap penderitnya. Mengajarkan apa itu keikhlasan memberi tanpa menunggu balasan, mengajarkan untuk merendah dan memaafkan tanpa harus mendendam, meski berat dan menyakitkan. Mengajarkan bahwa sebuah pengorbanan harus dilakukan demi masa depan yang lebih baik.
"Kalian akan tumbuh menjadi anak-anak yang mengerti. Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri." -Uncle, Om, Paman Tegar-
(Tere Liye, Sunset Bersama Rosie, halaman 246)
Lilin itu membakar tubuhnya sendiri untuk mengeluarkan cahay. Begitulah kehidupan. Kita mengorbankan diri kita untuk sesuatu yang lebih indah. Menerangi sekitar, tanpa peduli kalau itu mneyakitkan kita. Lilin ini hanya hidup semalam, lantas setelah seluruh batangnya habis, nyalanya akan padam. Selamanya.
(Tere Liye, Sunset Bersama Rosie, halaman 148-149)
Sayangnya, di sisi lain cinta tetap punya tabiat buruknya. Cemburu, itulah yang tak pernah lepas dari cinta. Watak buruk cinta yang sulit dihilangkan.
"Aku tidak pernah merasakan bagaimana indahnya dicintai lelaki seperti kau mencintai Rosie. Entahlah apa itu menyenangkan atau menakutkan." -Sekar-
(Tere Liye, Sunset Bersama Rosie, halaman 340)
"Tahukah kau, Tegar, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan." -Oma-
(Tere Liye, Sunset Bersama Rosie, halaman 410)
Kesimpulan dari novel ini:
Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
