Selasa, 28 Agustus 2012

Malaikat dalam Bingkai


Aku lelah hari ini. Seharian harus berkutat dengan urusan keuangan perusahaan. Mataku kering dan pedas berkat memelototi deretan angka yang harus kuhitung. Salah sedikit, mengulang lah sudah. Itulah pekerjaanku. Ketelitian dan kesabaranku harus kuforsir habis-habisan.

Kuhempaskan tubuh kurusku ke atas kasur empuk dalam kamarku. Tak ada gerakan berarti dari springbed berseprei ungu itu ketika kujatuhi. Ya, mungkin karena tubuhku yang terlalu enteng. Memang sejak dulu tubuhku tak bisa menggendut. Entahlah apa penyebabnya. Bawaan lahir? Atau keadaan yang membiasakanku. Saat itu juga, tak ayal pikiranku menembus awang-awang. Jauh, kira-kira lima belas tahun yang lalu.

Aku kecil, di perempatan lampu merah. Gadis sepuluh tahun yang kurus, hitam, baju lusuh. Jangan Tanya, rambut gimbal dan tubuhku tentu saja bau. Aku jarang mandi. Cuci muka pun bisa dihitung berapa kali. Tak jarang orang-orang di kota besar itu menutup hidung ketika berpapasan denganku. Ah, tak kuhiraukan perlakuan dan cibiran mereka. Yang terpenting obat untuk ibu bisa kubeli dan adik laki-lakiku tidak mengikatkan sarung lagi di perutnya.

Mengamen. Seharian bernyanyi dari satu mobil ke mobil lain. Sekedar untuk mengisi perut. Ibuku? Ia tak bisa apa-apa lagi. Kedua kakinya lumpuh karena peristiwa kecelakaan dua tahun lalu. Rumah kardus dengan lingkungan kumuh di kolong jembatan lah yang setia melindungi keluarga kami. Diapit gedung-gedung tinggi di kota metropolitan itu, membuatku merasa semakin “kecil”. Si kecil satu-satunya tulang punggung keluarga. Adikku masih terlampau kecil untuk kuajak mencari uang. Umurnya kira-kira lima tahun di bawahku.

Siang itu, seperti biasa. Kutelusuri jalanan dari rumah kardusku menuju perempatan tempatku mengamen. Terik sangat menusuk. Tapi, kulitku sudah kebal. Bukan masalah jika aku harus berlama-lama dihunjam sinar panas itu.

Traffic Light merah sedang menyala. Kudekati Toyota Rush hitam. Aku bernyanyi, dan pengemudi mobil itu pun memberiku selembar lima puluh ribuan. Aku kaget bukan kepalang. Banyak sekali pemuda tampan itu memberiku uang. Kutatapnya dengan wajah bingung. Agaknya ia mengerti maksudku. Lantas ia hanya mengangguk dan tersenyum. “Iya, semua buat kau,” demikian aku membaca raut itu. Memang, sejak dia melihatku pandangannya menjadi nanar. Diam-diam kuperhatikan roman mukanya. Aku pikir, pemuda tampan dalam mobil Rush itu menyimpan belas kasihan dengan keadaanku.

Sekarang, giliran lampu hijau menyala. Aku menyingkir ke trotoar. Menghitung isi kaleng bekas susu sambil menunggu merah menyala lagi. Tiba-tiba, ada yang duduk di sebelahku. Spontan aku menoleh, hendak tahu siapa gerangan itu. Astaga, pemuda tadi! Mau apa dia? Aroma tubuhnya wangi sekali. Betah aku duduk di dekatnya. Pakaiannya rapi, dengan kemeja berdasi tanpa jas. Ia pekerja kantoran, pikirku. Usianya kira-kira dua puluh limaan. Masih muda. Ia pun juga tak merasa jijik duduk di sampingku.

“Nama kau siapa?” tanyanya membuatku terperangah.

“Eh, aku Ulfa. Kakak ini siapa?” jawabku agak gugup.

“Aku Irfan. Sudah lama kau mengamen di sini?”

“Lumayan, Kak. Sejak aku berumur tujuh tahun,” kataku sambil mengusap peluh di kening. “Sudah sekitar tiga tahunan,” lanjutku.

Aku tidak lagi takut dengan orang yang belum aku kenal. Jalanan yang mengajariku hal ini. Lingkungannya yang keras membentuk mentalku untuk tidak memiliki rasa malu selagi aku tidak melakukan kesalahan.

“Berarti sekarang umurmu sepuluh tahun? Lantas, kau tidak sekolah?”

“Uang dari mana aku mau sekolah? Ibuku lumpuh, ayahku entah kemana. Bahkah, aku harus menanggung hidup ibu dan adikku yang masih kecil, Kak,” paparku. Aku mulai nyaman berbincang dengannya.

“Tapi kau juga masih terlalu kecil untuk hidup seperti ini. Kau tinggal di mana?” tanpa takut kotor, ia mengusap kepalaku.

“Ini takdir, Kak. Aku harus protes kepada siapa? Aku tinggal di rumah kardus, bawah jembatan tak jauh dari sini.”

“Kau dapat berapa dari hasil ngamenmu seharian?”

“Yah, tidak pasti. Kadang banyak, kadang sedikit. Lebih sedikit lagi ketika aku tertangkap satpol PP dalam razia gepeng, Kak.”

Pemuda itu mengusap mukanya. Sambil menghapus matanya yang berarir mungkin.

“Kau mau sekolah?” tanyanya kemudian.

“Tentu saja. Aku juga ingin berpenampilan cantik, rapi dan bekerja di tempat ber-AC seperti Kakak,” aku girang sekali. “Tapi, siapa yang akan membiayai?” aku menunduk dalam-dalam.

“Aku yang bertanya padamu, dan konsekuensinya aku dong yang harus bertanggung jawab atas pertanyaanku. Bukan itu saja, kau, ibu, dan adikmu boleh tinggal di rumah Kakak untuk menemani Kakak. Kakak tinggal sendiri. Orang tua Kakak sudah lama pergi,” nadanya sedikit merendah. “Kakak dulu besar di panti asuhan. Bisa sekolah tinggi juga berkat orang baik yang bersedia menanggung seluruh biayanya. Sejak itu, Kakak bertekad untuk tekun, berusaha membuktikan bahwa hidup tak hanya berpihak pada orang-orang kaya dan berkuasa,” suaranya semakin menghilang.

“Hah?  Kakak tidak bohong? Apa itu tidak merepotkan Kakak? Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apa sekarang,” seketika aku menangis. Suasana semakin haru ketika Kak Irfan memelukku. Untuk pertama kalinya, aku merasa nyaman di tengah teriknya kota.

Sejak kejadian itu, seminggu kemudian aku, ibu, dan adikku benar-benar tinggal di rumah Kak Irfan. Awalnya ibuku tak mau menerima kebaikan Kak Irfan itu. Namun, akhirnya ibu meleleh setelah mendengar penjelasan panjang dari Kak Irfan sendiri. Dari penjelasan itu, aku baru tahu ternyata Kak Irfan adalah direktur muda. Pantas saja, ia bersedia membiayai hidup keluargaku.

Kak Irfan sungguh menganggap kami sebagai keluarga. Ia menyekolahkan aku dan adikku. Di waktu luang kerjanya akhir minggu, tak jarang ia mengajakku dan adikku pergi jalan-jalan. Kemana saja yang kami mau. Kak Irfan telah mengangkat derajat keluargaku. Ia mambebaskan kami dari takdir hidup yang sulit.

Hingga aku beranjak dewasa. Usiaku dua puluh tahun, Kak Irfan tiga puluh lima tahun. Kuliahku sudah selesai, dan aku juga bekerja di kantor temapat Kak Irfan bekerja. Itu juga karena berkat ketekunan dan prestasiku. Bukan karena nepotisme yang sedang menjadi trending topic media saat ini.

 Seiring kebersamaanku dengan Kak Irfan, layaknya remaja lain, aku menaruh rasa lebih padanya atas dasar kebaikan, dan sifat-sifatnya yang membuatku kagum. Sesungguhnya, aku selalu mencoba membuang jauh-jauh rasa itu. Ternyata, berperang dengan perasaan jauh menguras tenaga daripada bertarung secara fisik.

Kak Irfan pun belum menikah saat itu. Entahlah apa yang membuatnya menunda momen sakral sekali seumur hidup tersebut. Sayang, aku tak pernah kuasa untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku menyadari itu tak pantas kulakukan. Mencintai malaikatku sendiri. Macam tak tahu hutang budi saja jika demikian.

Hingga akhirnya, Kak Irfan memutuskan untuk tinggal di London, mengejar mimpinya yang lain. Termasuk bertemu dengan pendamping hidupnya. Aku masih sering berhubungan dengannya melalui telepon, sosial media, dan SMS.

Aku menatap dinding. Mengamati foto keluarga kecil Kak Irfan yang kudapat dari kiriman surat elektroniknya setahun lalu. Sekarang umurku dua puluh lima, dan aku belum juga mengakhiri masa lajangku. Pacar? Tentu saja aku punya. Mungkin sebentar lagi ia akan melamarku. Aku bahagia dengan hidupku. Yang paling membuatku tak percaya adalah aku mampu mengalahkan hatiku. Untuk tidak mencintai malaikat hidupku sendiri. Biar, malaikat itu kini terbingkai indah di dinding itu. Bersama pendamping hidupnya dan malaikat kecilnya.

Minggu, 26 Agustus 2012

Beling-Beling yang Berburai

Beranjak, buru-buru. Beling terjungkal, terjatuh, terinjak, dan pecah berburai. Bahkan, sandal pun akan tertembus karena tajamnya. Luka? Siapa peduli? Ini hidupku, dan mereka tak perlu tahu (tak mau tahu tepatnya). Terus mengucur, lantas meninggalkan jejak bercak merah. Tetap saja, tak ada yang mau membersihkan. Justru dibiarkan menghitam.

Kuteruskan melangkah. Lebih cepat, dan semakin cepat. Tentu semakin berdarah dan perih. Namun, takut kehilangan intaian. Entahlah, tekad selalu membulat untuk menjangkaunya.

Rintihan tak ada lagi yang mendengar. Raut kesakitan tak ada lagi yang melihat. Menyentuh? Lalu bertanya? Ketahuilah, mereka dengan sengaja memagariku. Berlalu lalang di balik pagar itu, menutup telinga, memejamkan mata, dan menyumpal mulut!

Sudah, akan tetap kulanjutkan. Dengan beling-beling yang jatuh tak terhenti, kemudian tercecer membuka perih. Tentang mereka? Peduli apa?

Sabtu, 04 Agustus 2012

Sepucuk Surat Air Mata


 
 Sepucuk surat, dari ibu dan ayah

Anakku,

Ketika aku semakin tua, aku harap kamu dapat memahami dan bersabar untukku.
 
Ketika aku memecahkan piring, atau menumpahkan sup di atas meja karena penglihatanku yang semakin berkurang, aku berharap kamu tidak memarahiku.

Orang tuamu ini sensitif, selalu merasa bersalah saat kamu berteriak.

Ketika pendengaranku semakin memburuk, dan aku tak bisa mendengar apa yang kamu katakan, aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!”. Mohon ulangi apa yang kamu katakan, atau menuliskannya
.
Maaf, Anakku..

Aku semakin tua.. ketika lututku semakin melemah, aku berharap kamu bersabar untuk membantuku bangun. Sebagaimana aku membantumu belajar berjalan ketika kamu masih kecil.

Aku mohon, jangan bosan denganku.. Ketika aku terus mengulangi apa yang kukatakan seperti kaset rusak, aku harap kamu terus mendengarkanku. Tolong jangan mengejekku dan merasa risih mendengarkanku.

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan menginginkan sebuah balon? Kamu mengulanginya berulang-ulang dan terus mengulanginya sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

... Maafkan juga bauku. Tercium seperti orang yang sudah tua. Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi. Tubuhku lemah, orang tua mudah sakit karena rentan terhadap dingin. Aku harap, aku tidak terlihat kotor di hadapanmu..

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil? Aku selalu mengejarmu, karena kamu tak mau mandi.

Aku harap kamu bisa bersabar untukku, ketika aku selalu rewel. Ini semua bagian dari orang tua. Kamu akan merasakannya jika kamu tua nanti.

Dan ketika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara, mengobrol. Hanya untuk beberapa menit saja. Aku selalu sendiri setiap waktu dan tak memiliki seorang pun utuk kuajak berbicara.

Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan, jika kamu tidak tertarik dengan ceritaku, aku mohon, beri aku waktu untuk bersamamu.

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil? Aku selalu mendengarkan apa yang kamu ceritakan tentang mainan-mainanmu.

Ketika saatnya tiba. Dan aku hanya bisa terbaring sakit dan sakit, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku.

MAAF.. Jika aku mengompol dan membuat berantakan. Aku harap kamu bersabar untuk merawatku. Selama beberapa waktu, saat-saat terakhir dalam hidupku.

Aku mungkin takkan bertahan lebih lama. Ketika waktu kematianku datang, aku berharap kamu memegang tanganku dan memberiku kekuatan untuk menghadapi kematian.

Dan jangan khawatir... Ketika aku bertemu Sang Pencipta, aku akan berbisik pada-Nya, untuk selalu menjagamu, memberkahimu. Karena, kamu mencintai ibu dan ayahmu.

Terima kasih atas segala perhatianmu, Nak. Kami mencintaimu....

                                                                                                Dengan segenap cinta,
                                                                                   
                                                                                                Ibu dan Ayah
--------------------------------------------------------------------------------------------
Sepucuk surat, untuk ibu dan ayah

Ibu, Ayah..

Aku selalu berusaha bersabar untukmu. Meski kadang aku mengeluh, sabar tetap menjadi yang utama.

Aku takkan marah ketika kalian menumpahkan sup, atau memecahkan piring. Aku tahu kalian tak melakukannya dengan sengaja. Berbeda dengan ketika aku masih kecil. Justru sengaja membanting gelas yang kupegang karena aku merasa sebal pada kalian.

Aku juga takkan bosan mengatakan dan mangulangi apapun yang belum kau pahami. Anggap saja balas budi, karena dulu kamu mengajarkan banyak hal, mengulanginya berulang kali sampai aku menemukan pemahaman hidup yang baik.

Maaf, Ayah, Ibu..

Aku telah merepotkanmu untuk mengajariku berjalan dulu. Sudah kewajibanku kini menuntunmu dan membantumu bangun.

Sekali lagi, aku takkan bosan denganmu. Meski kau mengulangi kata-katamu puluhan kali, bagiku tak ada bedanya dengan dulu. Ketika kau membacakan sebuah buku cerita untukku setiap malam, berulang kali, sampai aku terlelap.

Kalian tak pernah terlihat kotor di mataku. Aku memaksamu untuk mandi, karena aku ingin kalian selalu sehat. Iya, mungkin caraku yang salah. Maafkan aku..

Sebisa mungkin, aku akan meluangkan waktu untuk kalian. Barang sebentar, aku akan menemani kalian. Aku juga tak ingin kalian merasa kesepian. Karena aku juga merasakan, kesepian itu tidak ada enaknya. Aku akan selalu bersama kalian..

Aku tak pernah berharap demikian. Aku ingin kalian selalu sehat. Terhindar dari penderitaan sakit. Namun, jika itu memang harus terjadi atas kehendak-Nya, aku berjanji, aku akan menjadi obat kalian yang paling manjur. Menjadi semangat kalian untuk bertahan.

Segalanya untukmu, Ayah, Ibu. Jika boleh, aku akan meminta pada Tuhan untuk tidak memisahkan kita, membuatmu hidup lebih lama. Namun, apapun alasannya, itu pasti terjadi. Akan kugenggam erat tanganmu, dan berbisik meyakinkanmu, bahwa suatu saat nanti kita akan bertemu lagi, di tempat yang berbeda dan lebih baik tentunya.

Terima kasih, Ayah, Ibu. Ketulusanmu membuatku menangis saat ini. Saat aku membalas surat kalian ini. Aku juga akan selalu berdoa untuk kalian dalam setiap shalatku, agar kalian mendapat kebahagiaan di mana pun kalian berada. Karena kalian telah mencintaiku dengan penuh ketulusan.

Terima kasih juga untuk segala pengorbananmu Ayah, Ibu. Aku mencintaimu..

                                                                                                Dengan segenap cinta,

                                                                                                            Anakmu

Kamis, 02 Agustus 2012

Tentang Aku...

Aku, bagaikan air sungai yang mengalir mencari hulu. Mengikuti alur, bergerak stagnan tanpa melawan kerasnya bebatuan melintang. Demi mencari muara hatimu.

Aku, bagaikan payung. Takkan membiarkanmu sakit karena kebasahan, atau pingsan berkat terik. Tugasku menjagamu, layaknya kau melindungiku sampai detik ini.

Aku, layaknya manusia pada umumnya. Akan mati tanpa detak jantung. Terang saja darahku akan berhenti, membeku lantas nyawaku ikut pergi. Iya, kamu detak jantungku.

Aku, pembual paling ulung di muka bumi. Sudah banyak bualan-bualanku yang terlontar. Demi melihat kerianganmu. Sama halnya denganmu yang selama ini goreskan kuas, melukis tawa di bibirku.

Aku, tak beda halnya dengan ajian hitam rawa rontek. Hatiku lebih tepatnya. Meski kau pecahkan, kau patahkan, akan senantiasa kembali utuh dengan sendirinya. Patah lagi? Akan utuh lagi. Bukannya tidak bosan, tapi sembuhnya luka itu adalah bahagia paling menyenangkan.

Aku, perempuan munafik. Terlalu sering berkata 'iya' meski tidak, dan berbilang 'tidak' meski iya. Tentu saja di depanmu. Siapa lagi yang rela berbuat apapun demi kau selain ibumu, ayahmu, dan aku?

Aku, entahlah. Terserah siapa pun ingin beramsumsi. Baik? buruk? Yang jelas, tentang aku adalah kau. Dan aku adalah tentang kau. :)

Jumat, 20 Juli 2012

Astagaa.. Aku Tenggelam!

Barusan aku mengintip kamarmu. Kau sedang tertidur, pulas sekali. Pelan-pelan kubuka pintu lebih lebar sedikit. Lalu kutelisipkan tubuhku dengan sangat hati-hati agar tak tercipta suara-suara yang membuatmu terbangun. Aku berjingkat mendekat, lantas duduk di pinggiran ranjang tidurmu. Aku kangen kau malam ini.

Aku menatapmu lamat-lamat. Roman mukamu apalagi. Kutelusuri dengan detail. Aku melihat banyak jawaban di sana. Tapi, jawaban yang sulit kumengerti. Jawaban yang entahlah. Harusnya kau katakan itu dengan gamblang.

Baiklah, kurasa lebih baik aku beranjak dari tempat ini. Sebelum aku semakin terlilit jawaban-jawaban yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, mungkin justru semakin banyak dan membuatku semakin pusing. Aku hendak berdiri, tiba-tiba, dengan sigap sepuluh jemarimu menahan lenganku. Aku kaget! Kutatap lagi romanmu yang masih terpejam, berharap menemukan jawaban, mengapa kau menarik lenganku. Seakan kau tak ingin aku membiarkanmu sendirian di kamar pengap ini.

Beberapa detik, aku masih tak mengerti apa maumu. Kau tetap dalam lelapmu. Hendak kulepas cengkeraman jarimu, namun terlalu kuat kau menggenggam lenganku. Lagian, sentuhanmu kurasa nyaman. Iya, sepertinya diamku lebih baik kali ini.

Aku mulai tersenyum sendiri melihatmu. Lebih tepatnya karena memang aku mengagumimu. Terus saja kau tahan aku di sini. Sampai kau bangun esok pagi, biar senyumku yang pertama kali menyambutmu. Kubayangkan gelagatmu ketika menyadari siapa yang menemanimu semalaman. Kau pasti lucu sekali, lantas melempariku dengan bantal lalu kubalas kau dengan lemparan guling. Jadilah perang ranjang sambil cengengesan usil.

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Eh, ada apa ini? Sungguh aku tenggelam tiba-tiba! Tubuhku terhentak keras ke depan. Seperti ada yang menarikku. Sepersekian detik aku tak sadar. Ketika kubuka mataku, aku sudah terbenam. Tempat apa ini? Sempit, gelap, sulit untuk bernapas di dalamnya. Sedikit kubenahi posisi kepalaku hingga aku bisa menjangkau suasana luar. 

Astagaaaa... ternyata. Aku hanya tersenyum melihat kenyataan ini. Kutenggelamkan lagi kepalaku. Namun, kali ini aku memposisikannya lebih nyaman. Tidak lagi pengap dan gelap. Yang ada malah sempit yang nyaman. Selamanya di sini pun aku betah. Iya, tenggelam di sini selamanya.

Ketika malam semakin matang, lenganmu semakin erat menenggelamkanku. Dasar kau! Sering-sering lah kau melindur seperti ini. Dan aku akan rutin datang ke sini setiap malam. :)

Minggu, 08 Juli 2012

Ada Cerita, Tentang Masa yang Indah..



Ada cerita tentang masa yang indah.. Ketika kau mengajariku tentang cinta. Sesuatu yang asing bagiku saat itu. Kau yang mengenalkan pertama kali. Sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Kau memberinya dengan tulus.

Ada cerita tentang masa yang indah.. Hampir enam tahun lalu, kau membuatku nyaman di sampingmu. Menyulap hari-hariku menjadi lebih menyenangkan. Menumbuhkan semangat baru untukku. Kau melakukannya dengan sepenuh hati.

Ada cerita tentang masa yang indah.. Saat kita tertawa bersama. Bermain bersama, lebih tepatnya menertawakan apapun yang kita lihat. Mencoba hal baru.

Ada cerita tentang masa yang indah.. Ke kantin, berdiri menatap ke depan di balkon sekolah, semua kita lakukan berdua. Main surat-suratan di kelas. Malu-malu kucing ketika tak sengaja bertemu.

Ada cerita tentang masa yang indah.. Ketika aku mendengar kau bermain gitar. Di kemah sekolah, kau bernyanyi. Narsis-narsisan. Saling mencuri padang, lantas tersenyum saat Tuhan menakdirkan mata kita bertemu.

Kau tahu? Aku senang mengenang masa-masa itu. Aku tertawa sendiri mengingatnya. Wajahmu yang polos, apa adanya. Senyummu yang manis, suaramu... Ah, entahlah! Semua bagaikan layar lebar, film yang diputar berulang-ulang di depanku.

Tapi, tak jarang mataku berair. Seperti saat ini, bertemankan "semua tentang kita" yang mengalun indah di telinga. Sempurna membawaku menemuimu di masa lalu. Ingin merasakannya lagi. Tentu, masih bersamamu. Kau sadar? Selama ini aku masih menyimpan semuanya. Semua tentang kita. Membekas dalam, enggan hilang. Sungguh, kamu masih spesial.

Kau mengerti? Tentang kenangan-kenangan itu. Tentang masa-masa indah itu. Saat pertama kali kau sentuh tanganku. Saat kau malu-malu menyatakan perasaanmu. Saat kamu menatapku, mengajakku bercerita. Semua belum hilang.

Enam tahun lalu, sampai sekarang, dan entah sampai kapan (mungkin selamanya), semua masih menyisa. Sesak, namun nyaman dan menyenangkan untuk diingat. Jaga baik-baik dirimu. Siapa tahu, kita bertemu lagi. Mengulang enam tahun lalu. Dengan perasaan sama, tatapan sama, ketulusan sama, dan senyum yang sama. Aku masih mencintaimu. :) Sungguh!! #KK

Minggu, 24 Juni 2012

Tetua Penjaja Dzikir

berapa lama kau berkeliling?
jajakan jerihmu semalam suntuk
memasukkan butir demi butir bulatan imitasi
dalam senar lembut meski kau paksa

mata kuyumu menggerabak
pedas dan memerah
untuk sebuah untaian penghitung dzikir

baju kokomu bak gombal
peci putihmu sedikit mengabu
tasbih seribuan apa daya
musnah kau telan

bukan, bukan itu niatmu
kau begitu mencintai-Nya
lewat langkahmu tertatih lelah
bertuntun menderai mendekati maraja

jika senar itu putus?
masaimu menggarang
menjumput lagi dzikir berserakan
jari yang bergetar namun tegas

stasiun tua adalah saksi mati
memuseumkan memoar tilasanmu
hingga kau benar-benar membawa dzikirmu
tasbih-tasbihmu kepada-Nya

sepi, tak lagi menggelantung di langit-langit
per jengkal stasiun kini perindu
seret jepitmu, sobek celanamu
entahlah,
mungkin kau dalam kenisbian
mengarungi sayhadat, menggenggam solawat erat-erat

Minggu, 10 Juni 2012

Kotak Bermusik

roman muka yang teduh
guratan sabit barang merekah
ikhlas, berkelakar meski terbeban
semasa jalan suratanmu
peluk aku, Ibu! sekarang!

gestur wajah yang tegas
bentakan kaku mengundang patut
dalam derai keringat menganak
selama napas hembusan berada
rangkul aku, Bapak! Jangan tunda lagi!

sungguh, enggan meremahkan asa
sungguh, kepingan itu akan kusambung lagi
bunuh hitam lewat cangap
tak masalah ditertawakan

harus kudapat!
yakinlah, gadismu akan pulang
mempersembahkan kotak bermusik
mengimpaskan guguran lelah
merapatkan rapuhan niskala


(ketika kalian mengecewakan mereka, dengan berbuat sesuatu yang salah, lihat betapa wajah mereka begitu sayup, dan hati mereka begitu layu. lantas, ketika kalian membanggakan mereka, tak senangkah kalian melihat mereka tertawa lepas, terus melontarkan pujian-pujian yang berlebihan untuk kalian? ketahuilah, melihat anak-anaknya bahagia adalah hal paling penting dalam hidup ayah dan ibu kalian. hal itu yang akan memberi mereka kekuatan, semangat untuk tetap ada di antara kalian. tatap muka mereka lamat-lamat ketika mereka tidur, kemudian ingat seberapa sering kalian menyakiti mereka! bayar hutang kalian kepada mereka! cukup dengan membuat mereka menangis, mengharu biru.)

Jumat, 08 Juni 2012

Kota Hitam

terus kayuh!
semakin berat karena butut
berkarat dan semakin rapuh
subuh menusuk, berkabut gelap

terus meracau!
terik mengintip lewat ujung sayu matamu
aspal semakin mengapur
sebab lelah melihat trotoar puas menyeringai
ternyata, siang masih pekat

terus kau kayuh!
balik kelambu yang kau rindu
langit kuning telur setengah matang
muram mega sedikit berdusta
bahkan, senja ini makin berjelaga

hingga secangkir teh milik tetangga
hangat wangi melati mengundang hasrat
gegara kilat tak memberimu atas itu
malam ini mendung
tiba-tiba hujan berguntur
bak kabut nalurimu

sayang, nasibmu
memaksa turuti waktu bernapsu
bernyawa tetanggung
teracuni di kota hitam

Kamis, 07 Juni 2012

Lahambay, Lembah Takzim




Judul                : Bidadari-bidadari Surga
Pengarang        : Tere-Liye
Penerbit            : Republika
Tahun terbit      : 2008 (cetakan I), 2010 (cetakan VI)
Tebal buku       : vi + 368 halaman
Ukuran buku    : 20,5 x 13,5 cm

Ide cerita yang diangkat sangat sederhana. Tentang pengorbanan seorang kakak (Laisa) demi kesuksesan keempat adik tirinya (Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta). Juga cinta, semangat, kerja keras, dan doa kepada Tuhan mampu memberi power yang besar dalam hidup Manusia.
Tere-Liye mengemasnya dengan begitu cantik, menyentuh, dan sangat manusiawi. Deskripsinya tentang keindahan alam Lembah Lahambay yang dikelilingi batu cadas setinggi lima meter, Gunung Kendeng, sungai, hutan rimba, dan kebun strawberry nyaris sempurna. Pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri panorama-panorama tersebut di depan matanya, persis menonton sebuah film dengan alur maju-mundur yang begitu rapat.
Novel ini banyak mengandung petuah-petuah dengan makna yang dalam. Salah satunya tentang takdir Tuhan bahwa HIDUP, JODOH, REZEKI, dan MATI adalah sepenuhnya milik Allah. Segala keputusan akhir mutlak di tangan Allah. Berbagai pemahaman hidup baru akan dapat dipetik dari novel ini. Pentingnya doa, cinta, semangat, pantang menyerah, dan kerja keras.
Kak Laisa, seorang teladan dalam keluarga yang sudah terbiasa bekerja keras setelah babak (ayah)-nya meninggal karena diterkam harimau Gunung Kendeng.  Dengan keterbatasan fisiknya, tubuh pendek, hitam, rambut gimbal, dan gemuk serta dempal, ia mampu menghidupi segenap keluarganya.
Ya, dia mungkin tidak memiliki kecantikan fisik yang didambakan oleh setiap lelaki, tetapi ia memiliki kecantikan hati yang luar biasa yang seharusnya lebih dibutuhkan oleh setiap lelaki di bumi ini. Bagaimana tidak, Kak Lais dengan ikhlas meminta kepada mamak (ibu)-nya untuk berhenti sekolah saat kelas 4 SD, demi keempat adik tirinya tetap bersekolah.
Berkat perjuangan Kak Lais yang luar biasa, Dalimunte (adik pertama Laisa), seorang anak lembah terpencil di pinggir hutan berhasil menjadi profesor di bidang fisika level dunia, dengan penelitian terbarunya tentang “Badai Elektromagnetik Antar Galaksi” yang akan menghantam planet ini sebelum kiamat. Ikanuri dan Wibisana, dua lelaki kembar tapi beda yang juga merupakan adik dari Dali, berhasil mendirikan bengkel mobil modifikasi dan akan membangun pabrik spare-part mobil sport, dan Yashinta si bungsu yang mendapat beasiswa S2 ke Belanda dan menjadi peneliti untuk konservasi ekologi, meneliti tentang burung Peregrin atau Alap-alap Kawah dan sejenisnya, serta menjadi kontributor foto untuk majalah National Geographic.
Kak Lais, yang hingga usianya 40 tahun lebih sudah beberapa kali gagal menikah, selalu ikhlas dan berhati lapang untuk dilangkahi adiknya yang lebih dulu mendapatkan jodoh. Prinsip Kak Lais “bahwa Allah telah mengirimkan keluarga terbaik dalam hidupku, dan itu sudah cukup. Aku menerima takdir Tuhanku dengan lapang dada,” membuat air mata tak tertahankan untuk menyeruak keluar.
            Hingga hari kematian Kak Lais tiba. Kanker paru-paru stadium IV yang telah disembunyikan dari adik-adiknya selama sepuluh tahun tak dapat ditahannya lagi. Penyakit yang dipendamnya selama ini lah yang memutuskan dan menjadi puncak perjuangannya dalam hidupnya. Sekaligus menjadi jembatannya menuju kehidupan kekal.
Dalam novel ini, Tere Liye, pria kelahiran 21 Mei 1979 itu juga mengangkat beberapa hadits yang dikaitkan dengan kisah Kak Lais. Membuktikan bahwa kisah ini tidak seringan kapas. Hadits yang menguatkan Kak Lais sebagai salah satu dari bidadari-bidadari surga. Demikian bunyinya:
“Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (QS Al-Waqiah: 22),
Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah.
Mereka baik lagi cantik jelita (QS Ar-Rahman: 70),
Bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (QS Ash Shaffat: 49)”
Dalam epilog novel ini, Tere-Liye menulis:
"Dengarkanlah kabar gembira ini. Wahai wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah ‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah), yakinlah, wanita-wanita shalehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur, kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar. Bidadari surga parasnya cantik luar biasa."
Hal lain yang menarik adalah pada beberapa kalimat awal dalam bab 39 (halaman 309) dan bab 44 (halaman 353).
"Terus terang, mengungkit masa lalu Laisa bukanlah bagian yang menyenangkan. Tetapi tidak adil jika kalian tidak tahu ceritanya. Apalagi untuk mengerti utuh semua kisah ini. Mengerti betapa Kak Laisa tulus melakukan semuanya. Maka, dengan melanggar janjiku kepada keluarga mereka, ijinkanlah aku menceritakannya."
Kemudian di bab 44, sebanyak dua halaman, pengarang menulis tentang perannya dalam cerita ini. Tere-Liye seakan menjadi saksi atas peristiwa dalam keluarga Lembah Lahambay. Dia juga salah satu penerima SMS mamak (selain keempat anak mamak) yang mengabarkan tentang kondisi Laisa menjelang kepergiannya.
Novel ini sangat layak diapresiasi! Di tengah situasi negara yang sudah bobrok dan krisis moral, Tere-Liye dengan cerdas dan menyentuh mampu mengangkat kisah yang sepela namun dapat dijadikan guru paling bijak dalam hidup paembaa. Apalagi jika kisah dibaca oleh ribuan bahkan jutaan pasang mata, maka suatu saat hikmah dalam novel ini akan memberi perubahan besar bagi Indonesia.

Jumat, 01 Juni 2012

Sepotong Surat

Lama aku ingin membuktikan bahwa kau pecundang. Ternyata semua itu keliru. Kesipulanku salah. Aku terlalu bodoh menafsirkan kata-katamu. Mas, sebentar lagi aku akan menerbitkan kumpulan puisiku. Judulnya bagus. Terima kasih atas inspirasi dari bau badanmu yang tetap wangi meski kau tak pernah memakai parfum. Aku juga terkesan kehalusan kakimu meski tak pernah kau lidungi dengan kaos kaki. Setujukah bila puisiku kuberi judul: Laki-laki Tanpa Parfum dan Kaos Kaki? Aku senang bersahabat denganmu. Tak lebih dari itu, karena aku tahu isterimu pencemburu.


Jujur aku mengagumimu dan selalu. Ada bentuk kepribadian lain yang kutemukan padamu. Dan itu sulit kujelaskan dengan kata-kata. Aku hanya bisa merasakan. Jika pun kekagumanku itu kuteruskan untuk memilikimu kemungkinan yang akan terjadi mudah kutebak. Aku terima kasih banyak.

Ada peristiwa paling kusukai sepanjang hidupku saat kau menciumku waktu gerimis kita menunggu kedatangan bus kota. Kemudian tanpa rencana kita berdua terdampar semalam di hotel pinggiran kota. Kau hebat, Mas. Kita tidur bersama sebatas kawan tempat berbagi pengalaman. Berkali-kali aku minta, kau tetap tersenyum bahwa semua itu hanyalah bentuk pelampiasan sesaat yang tidak baik bagi pikiran dan perasaan. Dampaknya lebih panjang ketimbang proses itu sendiri.

Aku sangat menghormatimu sebagaimana penghormatanku pada ayah dan suamiku walau kau tak sebrengsek mereka. Selamat malam. Tidurlah semoga hari-harimu esok lebih baik. Ati-ati, jaga diri baik-baik.


(Cak Sariban, "Wanita Tanpa Tisu, Laki-laki Tanpa Kaos Kaki: 91-93)

Selasa, 29 Mei 2012

Sajak Keseribu


Sejak purnama
Ringan menguntai aksara
Menata perasaan durja
Murung, berabu, dan berjelaga

Kembaranmu, Purnama!
Keras kepala!
Merajuk dan meminta
Membangunkan suhu sedang bertapa

Cerminanmu, Purnama!
Menuangkan kepingan-kepingan bahasa
Menuntun entah ke mana
Berkeliling, dalam balutan asa

Purnama, kumohon menyabitlah!
Sering kali kau tak mau dengar!
Relakan sempurnamu
Kutuliskan, ini sajak keseribu

Minggu, 20 Mei 2012

Ambang Batas yang Berbeda Tipis


Abang, aku melihatmu dalam bayangan cermin. Ya, tiba-tiba saja kau muncul. Di belakangku, siluet tipis yang menajam, semakin tajam, hingga terwujudlah sosokmu. Aku kaget setengah mati! Hendakku percaya ilusi itu, tapi takut-takut jikalau harapku tak bisa kuyakini.

Entahlah, Bang. Aku enggan menoleh ke belakang. Aku lebih senang melihatmu dari cermin ini. Sambil kusisir pelan rambut panjangku (yang sedikit) dan menjuntai ke depan. Sebenarnya, aku ingin bertanya satu hal; apa yang kau lakukan di situ, Bang? Sayangnya kerongkonganku tercekat. Bukan apa-apa, aku lebih nyaman, lebih betah memandangmu. Hanya memandangmu. Menyusur setiap detail yang ada padamu. Gestur wajahmu, lekuk tubuhmu, dan mili demi mili gerakmu.

Ah, Abang! Sesekali kau tersenyum. Tentu saja padaku, bukan? Bodoh saja jika kau tersenyum pada cermin di depanku. Bagaimana tidak? Di kamar ini hanya ada kita berdua. Kau dan aku.

Lantas kubalas dengan senyum pula. Sejujurnya, Bang, aku tahu aku hanya berkhayal. Tapi, aku masih tak habis pikir, kenapa aku berkhayal tentang kau. Bukan tentang yang lain. Apa karena aku merindukanmu yang tega pergi tanpa pamit?

Bang, kau lihat? Rambutku merontok. Semakin sering kusisir, semakin banyak yang jatuh. Astaga, Bang! Kau kenapa menangis? Kau tak tega melihat aku yang pucat? Percayalah, Bang. Istrimu ini tidak sedang kesakitan. Bukankah obatnya sudah di depan mata?

Kau mau mengajakku ke mana, Bang? Kenapa tiba-tiba kau menjulurkan tanganmu? Apa? Kau sungguh menyentuhku? Berarti ini nyata? Baiklah, Bang! Aku ikut kemana pun kau mengajakku. Tunggu sebentar, kurapikan dulu rambutku. Agar aku terlihat sedikit lebih cantik. Tak ada salahnya kan aku membuatmu betah untuk memandangku? Ayuk, Bang. Kita pergi berdua.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tunggu, Bang! Bukankah itu aku? Iya, yang terbaring di ranjang itu. Bukankah itu anak kita? Kenapa dia menangis di atas tubuhku, Bang? Ibu, ibu mertua, ayah? Semua menangis? Jangan kau diam saja! Jelaskan padaku, ada apa, Bang?

Suster? Loh,  kenapa mukaku ditutup kain putih? Bang, jawab! Tega sekali kau membuat istrimu ini bertanya terus! Mau dibawa ke mana tubuhku? Lalu?

Baiklah, aku mengerti sekarang. Jadi, kau mengajakku meninggalkan mereka? Iya, Bang. Mari kita pergi. Gandeng aku, Bang.

Jumat, 18 Mei 2012

Malam Bangsat

Jangkrik malas bercerita
Malam buta dingin menusuk
Ranting tertidur, daun mendengkur
Mendelik berat, terpejam pedas

Akhir-akhir ini malam bertabiat bangsat!
Katak tak mau membuka telinga
Debu bisu terbawa angin

Gelap memang bangsat!
Saraf-saraf mulai bermain
Bergelanggang dengan sabit
Memaksa, membangunkannya menjadi purnama

Pekat begitu bangsat!
Merujuk nestapa menyempurna
Kerling lintang berasa canggung
Terang-terang, remang-remang

Sangat bangsat!
Lancar melontar tempelak
Kejam menghujam
Tembus, berlubang
Dua bola kembar seketika berair

Senin, 14 Mei 2012

Riwayat Lembah Lawu


Biar, sejenak kubawa jiwaku ke lembah itu
dingin membeku, bersemilir syahdu
Biar, sejenak kumanjakan perasaanku
mengenang, tiada berharga selain dirimu

Di lembah itu, aku merintih
di lembah itu, jantungku memerih
Kupaksakan mematah rasa
kutekadkan mengamnesiakan kepala

Asal kalian tahu,
itulah riwayat lembah Lawu
yang menyaksikan pengecut baru
sedang memekik, sesenggukan pilu

Itulah riwayat lembah Lawu
tempatku merasakan hujaman peluru
ranahku menganggap tangis tak lagi tabu
ruang sang karma mengabolisikan diriku

Kurasakan dilema hati sedalam mungkin
meski tak ada enak-enaknya,
tetap saja, itu adalah akhir sebuah labirin