Ada banyak yang kau punya di tempat ini
Pelukan sepanjang hari, gelak tawa menyenangkan, omelan menyebalkan
Ada kasih sayang, duka, bahagia
Rindu, itulah yang menyergap ketika kau ingat tentang kota ini
Segala hal berawal dari sini
Orang tua yang hebat, saudara-saudara yang peduli, dan teman-teman yang baik
Semua ada di sini
Ketika tiba saatnya kau harus meninggalkan mereka untuk beberapa waktu,
Bagai beling yang tiba-tiba terjatuh dari ketinggian
"taaarrr" kau akan sadar bahwa sesungguhnya kebersamaan itu takkan abadi
Kamis, 29 Agustus 2013
Sabtu, 06 April 2013
Kenang
Saat kau bergegas, kala kuning matahari bak telur setengah matang. Saat pohon-pohon menyiluet bagai kelabu yang senyap. Dan saat seulas kabut debu menggantung di atas jangkauan kita. Sekadar bersulang kopi bersama, entah bercakap atau bisu, aku terjebak, terjengkang terjerembab dalam kesunyian yang menuduh. Tapi, ada sebuah rasa aman yang merasuk dalam keheningan yang utuh. Sebelum kau bergegas, lalu beranjak pulang, tengoklah! Serupa oranye keunguan menelan sempurna matahari. Wujudmu, meski hanya ada dalam sel-sel penyambung rentetan masa lalu, sempurna melahap seluruh Kenanganku.
Ranting kering, rapuh tentunya mudah terjatuh dari batangnya. Tak sulit untuk diabukan. Bumiku lengang. Komponen-komponen keriuhan, hiruk-pikuk, kegaduhan, semua melenyap. Entah, bersembunyi atau pergi. Jangan-jangan mati? Yang terKenang, lukamu milikku, perihku belum tentu kau mau merawatnya. Sederhana, tak maukah kau kembali sebentar? Setidaknya sampai kering lukaku. Dan aku, akan menanggung perihmu sepenuhnya.
Bergegaslah! Seraya mengelap peluh menganak. Bergegaslah! Telusuri trotoar sunyi tengah kota. Riuh tapi sepi, hening tapi ramai! Pekat, tidurlah! Jika sungguh Kenang tak mau kembali, pertemukan kami dalam mimpi.
Selasa, 19 Maret 2013
Gelas Beling #Bagian2
"Selamat malam, Nak. Kau hendak tidur? Sebagai pengantarmu, boleh aku bercerita sedikit?"
Sosok penjagaku tiba-tiba muncul. Entah dari mana asalnya. Aku yang semula sibuk menyisir rambutku di depan cermin, tanpa sadar mengiyakan pertanyaannya. Aku menuju ranjang, duduk manis, tanpa sepatah katapun bersiap mendengar ceritnya.
"Nak, kulihat kau hari ini sedikit murung. Ada apa gerangan? Ada yang membuatmu tak enak hati? Tanpa kau harus menjawabnya, aku mengerti, Nak.
Begini, Nak. Kau tahu gelas beling? Nah, cobalah sekali-kali kau bereksperimen dengannya. Letakkan ia di tempat terbuka, selasar rumah, lapangan, pekarangan, atau di manapun. Biarkan ia tinggal di sana untuk beberapa hari. Siang, ia akan dibakar terik yang luar biasa panas. Lalu malamnya, jutaan bulir hujan menghunjami tubuhnya. Sehari demikian, tak ada yang berubah dari tubuhnya. Dua hari, tak masalah. Tiga hari, ya, dia masih bertahan. Empat hari, mulai tampak garis-garis retakan itu. Lima hari, garisnya makin banyak, dan kau tahu apa yang terjadi pada hari ke-enam? Tubuhnya sempurna terbelah menjadi dua. Pecah.
Serapuh itulah manusia, Nak. Terserah kau menganalogikannya seperti apa. Tapi, ketahuilah, kerapuhan itu tidak bernilai mutlak. Sewaktu-waktu bisa menguat, namun bukan mustahil untuk justru menjadi semakin rapuh. Bahkan serapuh tisu yang tersiram kopi.
Tugasmu, Nak, menguatkan! Dengan caramu sendiri tentunya. Selamat tidur, Nak... "
Ketika kubuka mataku, sudah subuh. Sosok penjagaku? Entah...
Tugasmu, Nak, menguatkan! Dengan caramu sendiri tentunya. Selamat tidur, Nak... "
Ketika kubuka mataku, sudah subuh. Sosok penjagaku? Entah...
Jumat, 15 Maret 2013
Maka Hatimu Akan Menjadi Lebih Baik #Bagian1
Entah siapa, aku sedang merasa bersama seseorang. Ia tak pernah pergi, selalu mendampingiku. Napas dan bisikannya seakan senantiasa berada di belakang kedua telingaku. Perempuan atau laki-laki, aku tak tahu. Yang jelas, dia selalu mendongeng, bercerita panjang lebar dalam apapun yang aku lakukan. Tentang petuah-petuah yang membatasi tingkah lakuku. Juga menumbuhkan banyak pemamahaman baru yang baik dalam pikiranku. --Meskipun, terkadang aku mengabaikannya--.
Tapi, akhir-akhir ini aku mulai tahu bagaimana caranya berdialog dengannya. Aku mulai bisa mengajak bicara sosok tak berwujud itu. Ketika aku menanyai siapa namanya, ia menjawab; "Penjagamu, Nak." Lalu sosok itu mulai bercerita:
"Sebab-akibat itu berlaku mutlak dalam hidup. Maka teruslah berlaku baik, tulus.
Ketika ada yang menyakitimu, kala itulah kekuatan hatimu sedang diuji. Selentur apa hatimu untuk tidak robek dihujami duri, dihantam batu. Teguhkan hatimu, Nak. Kesakitan yang lebih perih, lebih parah akan kaudapat ketika kamu balas menyakiti yang menyakitimu. Memang tidak mudah, tapi bukan berarti sulit. Kau bisa! Cobalah, Nak!
Ketika kau disuruh memilih, kala itulah pengorbananmu diuji. Seberani apa kau akan meletakkan kebahagiaanmu demi orang lain. Seberapa bijak pikiranmu dalam memilih sebuah "nasib". Tapi, Nak, tak selamanya kau harus bersakit-sakit demi orang lain. Ada saatnya kesenanganmu harus lebih kau prioritaskan. Itu tidak salah, Nak. Asal sesuai porsi dan tidak berlebihan.
Ketika segala yang kau inginkan terwujud, sesungguhnya saat itulah bitiniahmu sedang sedang mengalami titik kulminasi pengujian. Kau harus menempatkan apa yang kau punya sesuai pada tempatnya. Jangan salah, Nak, semakin banyak sesuatu yang kau miliki, semakin banyak yang sirik, yang hendak mengganggu dan merusak. Maka kau harus pandai-pandai membentengi dan memagari apapun yang telah menjadi hakmu dari tangan-tangan jahil.
Sebaliknya, ketika apa yang kau cita-citakan tak kunjung terwujud, jangan kau berburuk sangka kepada siapapun. Haram bagimu menyalahkan siapapun. Tak ada yang salah dalam kegagalanmu, kecuali kesalahan dan kecerobohan dirimu sendiri. Namun, jika kau merasa usahamu sudah cukup besar, gigih, namun tetap saja sulit mencapai misimu, itu berarti ada takdir lain yang lebih diperuntukkan untukmu.
Jadi, Nak, berusahalah untuk selalu hidup dalam garis halal Tuhan. Dan yakinlah! Tuhan sungguh mencintaimu. Sangat menyayangimu.."
Aku tertegun, masih serius mendengarkan..
(Bersambung...)
Ketika segala yang kau inginkan terwujud, sesungguhnya saat itulah bitiniahmu sedang sedang mengalami titik kulminasi pengujian. Kau harus menempatkan apa yang kau punya sesuai pada tempatnya. Jangan salah, Nak, semakin banyak sesuatu yang kau miliki, semakin banyak yang sirik, yang hendak mengganggu dan merusak. Maka kau harus pandai-pandai membentengi dan memagari apapun yang telah menjadi hakmu dari tangan-tangan jahil.
Sebaliknya, ketika apa yang kau cita-citakan tak kunjung terwujud, jangan kau berburuk sangka kepada siapapun. Haram bagimu menyalahkan siapapun. Tak ada yang salah dalam kegagalanmu, kecuali kesalahan dan kecerobohan dirimu sendiri. Namun, jika kau merasa usahamu sudah cukup besar, gigih, namun tetap saja sulit mencapai misimu, itu berarti ada takdir lain yang lebih diperuntukkan untukmu.
Jadi, Nak, berusahalah untuk selalu hidup dalam garis halal Tuhan. Dan yakinlah! Tuhan sungguh mencintaimu. Sangat menyayangimu.."
Aku tertegun, masih serius mendengarkan..
(Bersambung...)
Jumat, 08 Maret 2013
Selembar Gerimis dalam Buku Malam
Terkungkung rindu. Tebal kabut kian membeku. Ada, pasti ada. Kondisi ini diciptakan Tuhan dengan sengaja. Bayangan mendekam kaku, memeluk lutut. Ada yang ganjil! Si Buta melihat Si Bisu sedang tidur. Si Bisu mengigau, mengucap serapah untuk Si Buta. Kerongkongan beku tercekat!
Di sudut pekat, malam membuka lembar demi lembar bukunya. Terus, hingga sampai pada sebuah halaman. Namanya "lembar gerimis". Lembar itu yang paling basah ketimbang lembar yang lain. Tinta yang menyetubuh dengan kertasnya pun kedinginan, lalu luntur. Malam heran tak terkira.
Tak ingin lembar yang lain ikut basah, malam merobek lembar gerimis. Padahal, lembar gerimis layaknya jantung buku itu. Bayangkan! Jantung yang dilepas paksa dari tubuhnya, bagaimana rasanya? Tapi, lembar gerimis tak menangis, bersedih, atau mendendam. Meski berdarah-darah, ia tak ingin tubuhnya semakin basah.
Itulah sebabnya, mengapa Si Bisu menyumpahi Si Buta. Siapa yang tahu kalau malam yang merobek lembar gerimis, ternyata bukanlah malam yang sesungguhnya. Ia adalah jelmaan dingin yang bertabiat iblis. Si Buta tak bisa menjaga buku malam dengan baik ketika Si Bisu lengah sebentar. Ia terlalu mudah terkecoh dengan muslihat dingin.
Yah, dan Si Bisu dan Si Buta, yang dipercaya malam untuk menjaga bukunya, telah menyihir dingin menjadi beku yang tercekat! Dan mereka sendiri? Menunggu sanksi dari malam yang masih tertidur pulas. Bertanggungjawab atas kelalaian mereka. Menungu yang tak berbatas waktu. Karena, entah kapan malam akan bangun dari tidur panjangnya.
Minggu, 17 Februari 2013
Ada yang Selalu Hidup; Sapardi Djoko Damono :)
AIR SELOKAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.
Dulu
di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu
waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka
sibuk memandikan mayat di kamar mati.
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
AKU INGIN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
AKULAH SI TELAGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
ANGIN, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
angin
yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut dunia ini
pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar suara nabi kita Adam
menyapa istrinya untuk pertama kali, "hei siapa ini yang mendadak di
depanku?"
angin
itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita untuk
pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi
-- sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di tengah bising-bising ini tanpa Hawa
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
ANGIN, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
ANGIN, 3
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
"Seandainya aku bukan ......
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.
"Seandainya aku . . . ., ."
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
"Seandainya ......
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
CARA MEMBUNUH BURUNG
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
bagaimanakah
cara membunuh burung yang suka berkukuk bersama teng-teng jam dinding
yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?
soalnya
ia bukan seperti burung-burung yang suka berkicau setiap pagi meloncat
dari cahaya ke cahaya di sela-sela ranting pohon jambu (ah dunia di
antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KEPOMPONG ITU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
kepompong
yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap
hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan
kepompong
itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu:
melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil
bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga
dan
kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri,
belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak
bermimpi
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KETIKA MENUNGGU BIS KOTA, MALAM-MALAM
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
"Hus, itu bukan anjing; itu capung!" katanya. Tapi capung tak pernah terbang malam, bukan? Capung tak suka ke tempat sampah
-- biasanya ia hinggap di ujung daun rumput waktu pagi hari,
dan kalau ada gadis kecil akan menangkapnya ia pun terbang ke balik pagar sambil mendengarkan suara "aahh!" Tubuhnya mungil, bukan?
Sedangkan yang kulihat tadi jelas anjing kampung yang ekornya buntung, menjilatjilat tempat sampah yang di seberang halte itu, mengelilinginya,
lalu kencing di sudutnya.
Hanya saja, aku memang tak melihat ke mana gaibnya.
"Itu capung!" katanya. Sayang sekali bahwa kau merasa tak melihat apa pun di seberang sana tadi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KISAH
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu. Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.
Hari
ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar
rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu
dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KUKIRIMKAN PADAMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KUTERKA GERIMIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
LIRIK UNTUK LAGU POP
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis
--
pandangmu adalah seru butir air tergelincir dari duri mawar (begitu
nyaring!); swaramu adalah kertap bulu burung yang gugur (begitu hening!)
aku pun akan memecah pelahan dan bertebaran dalam hutan; berkilauan serbuk dalam kabut
-- nafasmu adalah goyang anggrek hutan yang mengelopak (begitu tajam!)
aku akan berhamburan dalam grimis dalam seru butir air dalam kertap bulu burung dalam goyang anggrek
-- ketika hutan mendadak gaib
jangan pejamkan matamu:
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
MATA PISAU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
DI SEBUAH HALTE BIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana. Kau memang tak pernah berumah, dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk dan tampak putih.
Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk. Bis tak kunjung datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu. Mereka
menjadi kesal dan, bagai para pemabok, berjalan sempoyongan sambil
melempar-lemparkan buku dan menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
PERAHU KERTAS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Waktu
masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi
kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit."
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
PESAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.
Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau
kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam
padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
PESTA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
pesta berlangsung sederhana. Sedikit tangis, basa-basi itu; tinggal bau bunga gemetar pada tik-tok jam, ingin mengantarmu sampai ke tanah-tanah sana yang sesekali muncul dalam mimpi-mimpinya
. . . di sumur itu, si Pembunuh membasuh muka, tangan, dan kakinya
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TUAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang ke luar.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SAJAK SUBUH
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air. Mereka berteriak, "Jangan bermimpi!" dan ia terkejut tak mengerti.
Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi. Ia
ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika
untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat
tinggalnya.
"Jangan bermimpi!" gertak mereka.
Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, "Jangan bermimpi! "
Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan .....
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SAJAK TELUR
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung
semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin
memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SETANGAN KENANGAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Siapakah gerangan yang sengaja menjatuhkan setangan di lorong yang berlumpur itu. Soalnya, tengah malam ketika seluruh kota
kena sihir menjelma hutan kembali, ia seperti menggelepar- gelepar
ingin terbang menyampaikan pesan kepada Rama tentang rencana ....
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SIHIR HUJAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SUDAH KUTEBAK
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Sudah kutebak kedatanganmu. Seperti biasanya,
kau berkias tentang sepasang ikan yang menyambar-nyambar umpan sedikit demi sedikit,
menggosok-gosokkan tubuh di karang-karang,
menyambar, berputar-putar membuat lingkaran,
menyambar, mabok membentur batu-batuan.
Kutebak si pengail masih terkantuk-kantukdi tepi sungai itu.
Sendirian.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TAJAM HUJANMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TEKUKUR
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Kautembak tekukur itu. Ia
tak sempat terkejut, beberapa lembar bulunya lepas; mula-mula terpencar
di sela-sela jari angin, satu-dua lembar sambar-menyambar sebentar,
lalu bersandar pada daun-daun rumput. "Kena!" serumu.
Selembar
bulunya ingin sekali mencapai kali itu agar bisa terbawa sampai jauh ke
hilir, namun angin hanya meletakkannya di tebing sungai. "Tapi ke mana terbang burung luka itu?" gerutumu.
Tetes-tetes
darahnya melayang : ada yang sempat melewati berkas- berkas sinar
matahari, membiaskan wama merah cemerlang, lalu jatuh di kuntum-kuntum
bunga rumput.
"Merdu benar suara tekukur itu," kata seorang gadis kecil yang kebetulan lewat di sana; ia merasa tiba-tiba berada dalam sebuah taman bunga.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TELINGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
"Masuklah ke telingaku," bujuknya.
Gila
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci -- setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
"Masuklah," bujuknya.
Gila ! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TENTANG MATAHARI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh,
adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata :
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.
YANG FANA ADALAH WAKTU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Jumat, 15 Februari 2013
Menyatakan yang Samar-Samar
Kau yang selalu ingin kususun dalam serangkaian angan yang tadinya membuyar. Tidak sulit. Sangat mudah ketika aku tinggal meletakkan satu per satu kisah dalam setiap tangga periode. Seperti halnya nahkoda berlayar yang bebas membuang sauhnya di mana pun, kapan pun, juga aku yang dengan semauku sendiri hendak meletakkan setiap kisah itu bagaimana urutannya.
Kemudian bagaimana nasib kisah-kisah yang sudah kurangkai sedemikian indah, kusutradarai sendiri dengan alur yang selalu membahagiakan? Tetap tak ada enak-enaknya jika hanya sekadar angan. Tugasku selanjutnya adalah mewujudkan kisah-kisah itu. Dengan mempertahankan setiap butirnya agar tetap berada pada singgasananya. Agar tak terpeleset, lalu terjatuh.
Ah! Inilah bagian sulit! Merawat angan, menyatakan yang samar-samar.
Selasa, 12 Februari 2013
Belum Mati, Sudah Mati
Ada yang perih
entah bagian mana, ada yang robek
Ada yang ngilu
entah sebelah mana, ada yang lebam
Ada yang mengaduh!
entah di mana, ada yang terkapar
Jiwa, selembar, merapal mantra sebuku
perongrong menggerayang setubuh
pilu membawa sembilu
Tak disangka!
belum mati, tapi sudah mati
Senin, 11 Februari 2013
Selamanya, Perempuan Terhebat di Hati Ayah; Ibumu
Ibumu perempuan hebat, Nak. Ayah sungguh tak pernah bisa membuat hatinya terluka. Satu-satunya yang mampu meluluhkan hati Ayah adalah ibumu meskipun seringkali Ayah dibuatnya mengkal. Tapi, ketika Ayah hendak marah, lantas tak sengaja menatap matanya, Ayah memutuskan untuk urung. Pandangannya selalu sendu. Selalu penuh kesabaran dan keikhlasan.
Dulu, waktu kau masih bayi, Ayah sering berpikir, betapa kokohnya lengan ibumu. Setiap saat selalu menggendongmu. Tak kenal lelah, tak mau melepasmu dari pelukannya barang sedetik.
Kemudian ketika kau balita hingga kau menginjak usia sekolah, Ayah berasumsi, betapa gigihnya hati ibumu. Ia berusaha keras mengajarimu berjalan. Membantumu bangun ketika jatuh. Mengajarimu berbicara dan mengenal benda-benda di sekitarmu. Sungguh, ibumu takkan pernah berhenti melakukan hal itu sampai kau benar-benar bisa.
Ibumu selalu membangun pemahaman-pemahaman baik padamu. Harapannya adalah agar kau mampu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Berharap agar kau menjadi manusia yang kehadirannya diharapkan banyak orang.
Hingga saat kau remaja. Ibumu tetap sama. Perhatiannya tak pernah berubah padamu, juga pada Ayah. Bahkan, tak jarang ia melalaikan tubuhnya sendiri demi kita. Lembut hatinya membuat Ayah begitu mencintainya.
Dan kau tahu, Nak, apa yang membuat Ayah merasa begitu kecil? Membuat Ayah merasa seperti tak berguna? Iya, ketika melihat ibumu menangis. Bagai bidadari yang lelah, sayapnya terlepas dengan sendirinya.
Sebab banyak hal itulah Ayah tak berani sedikitpun menyakiti hati perempuan, terutama ibumu. Banyak pengorbanan yang Ayah pun tak bisa melakukannya.
Selamanya, perempuan terhebat di hati Ayah; Ibumu.
Rabu, 16 Januari 2013
Kearifan Tepian Kapuas
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 512 halaman
Harga : Rp. 72.000,-
Luar Biasa!
Mungkin ngkapan itu yang pantas disematkan untuk novel karya Tere Liye ini.
Sebuah karya sastra yang mengajari tapi bukan menggurui. Memberi banyak petuah
hidup dalam setiap alurnya yang rapat. Mengajak pembaca mengaduk-aduk perasaan
melalui segmen-segmen kepelikan konflik yang ditampilkan.
Kisah
bernas yang dipintal dengan kepiawaian seorang tukang cerita, hal menarik
lainnya adalah penggunaan Kota Pontianak dan Sungai Kapuas sebagai seting.
Sampai saat ini, saya belum pernah membaca karya fiksi yang menghidupkan kota
dan sungai ini sebagai seting utama. Tere Liye memberdayakan seting ini secara
intens sehingga kita seolah-olah dibawa ke kota yang didirikan Syarif
Abdurrahman Alkadrie pada 23 Oktober 1771 ini dan mendengar lenguhan
burung-burung walet terbang menuju sarang di bangunan paling banyak di Kota
Khatulistiwa ini. Sementara di Sungai Kapuas, desau angin menciptakan riak-riak
yang menerpa badan sepit yang sedang melenggang membelah permukaan sungai
sepanjang 1.143 km.
Borno,
pemuda berhati paling lurus sepanjang Kapuas. Menjadi penggerak utama jalan
cerita dalam novel ini. Mulai dari kisah keluarga, cinta, keberhasilan, dan
perjuangan Borno benar-benar jelas tergambar dalam pikiran pembaca melalui
pendeskripsian yang sederhana. Pencitraan dan
gaya bahasa penulis mampu membuat imajinasi pembaca semakin melambung,
seakan ruh pembaca ikut terlibat dalam cerita. Menjadi salah satu saksi nyata
kisah Borno dan keluarga besar pinggiran Kapuas ini.
Penampilan
mata pencaharian yang jarang diperhatikan orang membuat cerita ini memberi
pengetahuan baru bagi pembacanya. Pengemudi sepit (dari kata speed). Sepit adalah semacam perahu tradisional
yang digunakan warga Kapuas menyeberangi sungai ketika hendak pergi kerja,
berbelanja, dan aktivitas mereka yang lain. Alat penggeraknya masih berupa
propeler. Untung saja Borno mengetahui banyak tentang mesin. Jadi, bukan
masalah.
Kau,
Aku, dan Sepucuk Angpau Merah adalah novel yang sarat akan nasehat. Terlebih,
Tere Liye menampilkan nasehat tersebut tak hanya melalui Borno dan takdir
hidupnya. Tapi yang lebih mengena adalah melalui Pak Tua. Seorang tokoh yang
menurut saya berkarakter unik. Dengan usianya yang tak muda lagi, beliau
mengetahui banyak hal, mengerti tentang anak muda, dan memahami setiap lekuk perasaan
orang lain. Entahlah, Pak Tua ini tahu bayak hal itu dari mana. Yang jelas,
setiap kata-kata Pak Tua mampu menghidupkan perasaan pembaca, menyugesti
pembaca agar juga mengaplikasikan apa yang ia katakan dalam keseharian mereka.
“Sederhana, Borno. Kau bolak-balik sedikit saja hati
kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina
menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-disuruh menjadi penerimaan. Seketika,
wajah kau tak kusut lagi. Dijamin berhasil. Bahkan Togar malah mencak-mencak
lihat kau tersenyum tulus saat dia meneriaki kau bergegas menyikat kakus” (halaman 59)
Demikian kata
Pak Tua. Menjadi obat kemengkalan Borno terhadap Togar, ketua himpunan
pengemudi sepit Kapuas, anak angkat tetua suku Dayak, juga satu-satunya
pengemudi sepit yang galak dan suka menyuruh-nyuruh.
Yang
berbeda dari novel ini adalah pembauran masyarakat dari tinjauan sosiologisnya.
Koh Acong dan Cik Tulani yang merupakan keturunan Cina, Andi, sahabat Borno
yang berdarah bugis, dan tokoh lain yang berlatar belakang dari berbagai suku,
dapat berinteraksi dengan baik dan hidup bersama dengan solidaritas tinggi.
Saling timbal balik dan menghargai merupakan salah satu perwujudan dari
semboyan tanah air, yaitu “Bhineka Tunggal Ika”.
Jalan
cerita yang diciptakan juga membentuk cita rasa baru yang berbeda dari
novel-novel percintaan lain. Memberi sensasi yang mampu membentuk pemahaman
baik tentang “jatuh cinta” kepada pembaca. Bahwa cinta adalah pengorbanan.
Cinta bukan paksaan, tetapi pantas diperjuangkan. Cinta adalah penantian
berjam-jam, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun. Dan cinta bukan hanya
perkataan, melainkan perbuatan yang tulus dari hati.
Novel ini dibuka dengan kisah Borno
kecil yang bertanya tentang panjang Sungai Kapuas karena dia ingin tahu apabila
dia buang air di hulu Kapuas, butuh berapa hari ‘residu padat’ itu sampai di
depan rumahnya. Yah, begitulah anak-anak, kerap memikirkan sesuatu yang jarang
terpikirkan oleh orang dewasa. Dia bertanya mengenai panjang sungai Kapuas
kepada ayahnya (sebelum meninggal), ibunya, Koh Acong, dan Cik Tulani. Semuanya
tidak memberi jawaban yang memuaskan. Hingga akhirnya ia bertanya pada Pak Tua
berapa panjang Kapuas dan butuh berapa lama untuk mencapai hulunya. Menanggapi
pertanyaan Borno, Pak Tua justru memberikan jawaban yang bagi Borno dianggap
sebagai jawaban yang berbelit-belit. Katanya, waktu yang diperlukan untuk
mencapai hulu tergantung perahu yang digunakan, siapa yang mengemudikan perahu,
di musim apa pergi ke hulu. Pokoknya ribet. Tapi, bila dipikir-pikir, yang
dikatakan Pak Tua memang benar. Dalam merencanakan untuk meraih sesuatu,
kita harus memperhatikan banyak faktor. Kita harus mengukur ‘kekuatan’ diri,
menentukan ‘alat’ yang akan digunakan, cara yang akan ditempuh, dan masih
banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan.
Kemudian cerita dilanjutkan dengan
kisah Borno yang berganti-ganti pekerjaan, mulai dari pekerja di pabrik
pengolahan karet, petugas pemeriksa karcis di pelabuhan, hingga pertentangan
hati ketika dia harus menjadi pengemudi sepit. Awalnya dia tidak mau menjadi
pengemudi sepit karena wasiat ayahnya yang melarangnya menjadi pengemudi sepit.
Namun, setelah mendengar nasihat ibunya dan Pak Tua, Borno pun menjalani mata
pencaharian tersebut. Saat menjadi pengemudi sepit inilah Borno bertemu dengan
Mei, gadis Tionghoa, cantik,
beraut sendu menawan, suka memakai baju kurung kuning, dan ramah. Mei juga
seorang guru muda yang dikagimi oleh murid-muridnya. Hingga ketika Mei menaiki
sepit Borno, ia menjatuhkan sebuah amplop merah (yang di kemudian
hari ‘disadari’ Borno bahwa itu hanya angpau, meski sebenarnya bukan).
Gadis Tionghoa itu pula lah yang
membuat Borno bertingkah ‘aneh’ dengan ngotot untuk berada di
antrian sepit nomor tiga belas dan membuat Borno menunggu-nunggu kedatangannya
pada pukul tujuh lewat lima belas, demi mendapati Mei naik sepitnya. Ia tak peduli
dengan omelan-omelan pengemudi sepit lain yang tidak terima didahului. Bisa
tidak bisa, Borno harus mendapat antrian sepit nomor tiga belas.
“Apalah namanya ini? Disebut
apakah perasaan ini? Kenapa hatiku macam sayuran lupa dikasih garam, hambar,
tidak enak, tidak nyaman? Atau seperti ada tumpukan batu besar di dalamnya,
bertumpuk-tumpuk, membuat sempit. Atau seperti ikan diambil tulangnya,
kehilangan semangat.”
Itulah kata hati Borno ketika
bertemu dengan Mei. Sama halnya dengan pemuda umumnya, ia selalu gelisah dan
pikirannya selalu tertuju kepada sendu menawannya itu.
“Ibu, usiaku
dua puluh dua, selama ini tidak ada yang mengajariku tentang perasaan-perasaan,
tentang salah paham, tentang kecemasan, tentang bercakap dengan seseorang yang
diam-diam kaukagumi. Tapi sore ini, meski dengan menyisakan banyak pertanyaan,
aku tahu, ada momen penting dalam hidup kita ketika kau benar-benar merasa ada
sesuatu yang terjadi di hati. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan.”
“Kita tidak
pernah tahu masa depan. Dunia terus berputar. Perasaan bertunas, t umbuh mengakar, bahkan berkembang biak di
tempat yang paling mustahil dan tidak masuk
akal sekalipun.”
Lantas apa
semuanya menjadi sesederhana itu? Tentu saja tidak. Tidak ada yang sederhana di
dunia ini. Borno dan Mei harus berpisah untuk kemudian dipertemukan lagi.
Saling merindukan, saling menunggu, dengan taburan berbagai kesalahpahaman.
“Nak, perasaan
itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan
itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja
dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.”
“Rasa senang,
rasa sedih, itu semua hanya soal pengharapan.”
Hingga suatu saat, ketika
Borno sedang berada jauh dari Mei, ia bertemu dengan Sarah, seorang dokter muda
di Kapuas itu ketika mengantar Pak Tua yang sedang sakit. tak kalah cantik dan
pintar dari Mei, Sarah juga sangat menarik. Kehadiran
Sarah itulah yang semakin membuat Borno bekerja keras mengendalikan
perasaannya.
“Maafkan aku
Mei, itulah satu-satunya yang tidak bisa kupenuhi. Sarah bukan kesempatan baru
bagiku. Kau satu-satunya kesempatan yang pernah kumiliki, dan aku tidak akan
pernah mau menggantinya dengan siapapun.”
Demikian prinsip Borno. Ia
tetap konsisten dengan hatinya. Sangat pantas jika ia dikatakan sebagai ‘bujang
berhati paling lurus sepanjang Kapuas’. Dua dunia
yang berbeda, namun tetap berusaha sebaik-baiknya menjalankan peran
masing-masing dalam penantian. Terus memperbaiki nilai keberadaan masing-masing
di dunianya. Sungguh, ini bukan kisah cinta yang cengeng dan norak. Ini adalah
sample kisah cinta yang penuh kesabaran dan penerimaan. Tidak terburu-buru
mencari kesimpulan dan membiarkan takdir mengantarkan mereka berdua pada
kebenaran. Karena memang semuanya tidak sesederhana yang terlihat. Borno
bertemu dengan Mei dan kemudian Sarah. Ada jalinan benang nasib yang
mempertautkan pertemuan dan perpisahan mereka.
Tere Liye memang penulis yang lihai
mengacak dan menyusun kata. Ia menampilkan cerita yang sebenarnya penuh
kesedihan, ketabahan dengan bahasa yang ceria dan menyenangkan.
Namun, ada pula bagian novel ini
yang menurut saya membosankan. Yaitu ketika Borno terlalu sibuk dengan bisnis
bengkelnya dengan bapak Andi dan Andi yang tertipu setelah membeli bengkel
baru. Terlalu panjang penjabarnnya. Tetapi, secara garis besar, novel ini
mengagumkan!
Selain memotivasi, novel ini juga
menginspirasi setiap pembacanya. Sangat baik dikonsumsi masyarakat. Novel ini
dapat mengajak mereka untuk terus menabur
cinta kasih di atas muka bumi, dengan satu penegasan, “bercintakasihlah dengan
pengertian dan pemahaman positif”.
Benang merah yang dapat saya tarik
dari kisah ini adalah “ketika kita berjuang dengan perasaan yang tulus dan hati
yang ikhlas, maka perjuangan tersebut akan berujung menyenangkan, membuat hati
kita puas meski tujuan utama belum tentu tercapai”.
Ketika menutup halaman terakhir saya
masih tergelak, ikut senang dengan akhir kisah Borno, kemudian merenung..
Sanggupkah saya menerima jalinan benang nasib dengan senyuman, penerimaan,
kerja keras dan keikhlasan seperti Borno?
Novel ini sangat sayang jika tidak
dibaca. Bisa-bisa kita kehilangan banyak kesempatan untuk menjadi orang yang
lebih baik melalui buku ini. Saya sangat berterimakasih kepada Tere Liye atas
pemahaman baru yang saya dapatkan. Dan kepada Gramedia penerbit yang telah
mewujudkan kisah inspiatif ini hingga sampai ke tangan saya.
“Ah, cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru atau
kau akan merusak jalan ceritanya sendiri.”
Langganan:
Postingan (Atom)